May 26, 2008

Tes Tusuk dan Tes Tempel Untuk Penderita Alergi

Tanya:

Ibu dokter yang terhormat, saya seorang wanita 30 tahun, saya bekerja di sebuah industri kerajinan. Saat ini saya sedang bingung dengan kondisi badan saya yang sedang dilanda gatal-gatal seluruh badan yang sudah terjadi selama lebih dari 8 bulan.

Keluhan berupa bentol-bentol seluruh tubuh yang hilang timbul, selain itu tangan saya juga gatal dan mengelupas kadang terasa pedih. Saya sudah berulang kali berobat namun tidak ada perubahan, saya juga telah melakukan cek darah hasilnya normal semua.

Saya pernah mendengar tentang tes alergi, apakah itu dapat membantu mengatasi masalah saya?. Sebaiknya saya melakukan pemeriksaan apa? Bisakah ibu jelaskan mengenai tes alergi tersebut. Terimakasih

Yoan, Pontianak

Jawab:

Saudara Yoan yang sedang dilanda gatal, berdasarkan masalah yang anda sampaikan berupa bentol-bentol seluruh badan yang sudah terjadi lebih dari 8 bulan kemungkinan saudara menderita urtikaria kronis, sedangkan keluhan berupa tangan yang mengelupas gatal dan pedih kemungkinan berhubungan dengan pekerjaan saudara, penyakit ini dikenal sebagai dermatitis kontak akibat kerja (DKAK).

Urtikaria adalah bentuk reaksi vaskuler pada kulit yang ditandai oleh edema dan eritema berbatas tegas (urtika) disertai rasa gatal yang bervariasi seperti, tersengat, rasa terbakar, seperti tertusuk-tusuk. Urtikaria dapat timbul tiba-tiba, dengan waktu serangan jarang melebihi 24 sampai 48 jam, dan dapat berulang dalam jangka waktu tidak terbatas.

Penyebab urtikaria tidak diketahui dengan pasti, namun beberapa teori mengatakan bahwa urtikaria dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti alergi makanan, alergen hirup, kontakan, stress psikis, cuaca dan trauma fisik.

Berdasarkan keluhan ibu yang telah menderita urtikaria selama lebih dari 6 bulan kondisi ini merupakan urtikaria kronik. Urtikaria dikatakan akut (UA) bila berlangsung kurang dari 6 minggu dan penyebabnya sering kali diketahui, sedangkan urtikaria kronik (UK) berlangsung lebih dari 6 minggu.

Dermatitis Kontak akibat kerja (DKAK) adalah kondisi inflamasi kulit yang disebabkan oleh kontaknya kulit dengan bahan-bahan yang terdapat pada tempat kerja. Dermatosis akibat kerja 80% disebabkan oleh dermatitis kontak iritan (DKI), sedangkan sisanya oleh dermatitis kontak alergi (DKA).

Dermatitis kontak (DK) merupakan penyakit peradangan kulit yang sering dijumpai dan berhubungan dengan paparan terhadap berbagai kontaktan yang bersifat sensitizer maupun iritatif. Dermatitis kontak iritan terjadi oleh karena efek toksik lokal bahan kimia pada kulit, berbeda dengan DK alergi yang merupakan suatu reaksi hipersensitifitas tipe IV terhadap senyawa kimia dengan berat molekul kecil yang dikenal sebagai hapten.

Dermatitis kontak akibat kerja memiliki perjalanan klinis dengan prognosis 50% mengalami kekambuhan dan 25% persisten dengan keadaan klinis berat meskipun penderita telah mengganti pekerjaannya. Hal ini akan menyebabkan morbiditas yang tinggi, produktivitas yang menurun.

Diagnosis DKAK akibat kerja sulit ditegakkan oleh karena tidak ada gambaran klinis yang khas. Secara klinis tidak dapat dibedakan DKAK alergi dengan DKAK iritan kumulatif. Selain itu, identifikasi alergen penyebab yang spesifik merupakan kunci untuk menghindari paparan, perbaikan terhadap dermatitisnya, serta pencegahan agar tidak muncul kembali.

Ibu Yoan, untuk mengetahui pencetus kelainan kulit ibu memang tidak bisa dilihat hanya dengan tes darah, ibu juga tidak menyebutkan tes darah apa yang dilakukan. Untuk mengetahui penyebab alergi / keluhan kulit yang ibu derita sebaiknya dilakukan tes alergi. Untuk biduran dapat dilakukan dengan tes tusuk / prick test. Tes tusuk berupa alergen hirup dan tes alergen makanan. Tes ini dilakukan dengan cara mengoleskan bahan alergen di kedua lengan kemudian memusuk dengan jarum khusus dengan kedalaman tertentu. Dengan tes tersebut akan dapat diketahui bahan apa yang memyebabkan alergi.

Pekerjaan ibu sebagai karyawan yang bekerja pada sektor industri kerajinan, sangat rentan terkena DKAK, yang dapat disebabkan dari bahan-bahan yang digunakan mungkin dari perekat, bahan cat/pewarna, pengawet ataupun bahan yang lain. Selain itu ruangan tempat kerja juga berpengaruh terhadap kekambuhan penyakit ini. Untuk mengetahui DKAK dapat dilakukan dengan tes tempel berupa bahan alergen khusus yang ditempel dipunggung dengan cara khusus. Tes tempel merupakan metode yang praktis, aman serta obyektif untuk membantu diagnosis serta menentukan penyebab DK alergi.

Berdasarkan hasil tes tersebut dapat dilacak penyebab alergi. Apabila dari bahan-bahan yang diujikan bereaksi maka sebaiknya bahan tersebut dihindari baik untuk dihirup maupun dimakan supaya urtikaria tidak muncul lagi. Demikian juga bahan kontak penyebab alergi dapat dihindari.

Demikianlah bila kurang jelas atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah kulit dan kelamin dapat menghubungi:Hp 0818464018 atau pontianak post atau poli Kulit dan Kelamin RS Soedarso/ RS Antonius atau apotek Mitra jl Jend Urip.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

May 19, 2008

Batuk Berdarah, Bronchitis atau TB?

Tanya:

Dok, apa yang dimaksud dengan bronchitis? Apa sama dengan TB? Saya batuk berdahak sudah lama tapi tidak ada batuk darah dan dirontgen dikatakan dokter saya terkena bronchitis. Bahaya gak dok? Mohon jawabannya.

Tn. I, 24 thn

Jawab:

Bronkitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru). Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Bronkitis biasanya terjadi karena infeksi seperti radang tenggorokan, campak, dan batuk rejan. Penyakit ini disebabkan virus dan bakteri.

Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paru-paru serta saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari sinusitis kronis, bronkiektasis, alergi, dan pembesaran amandel pada anak-anak.

Terdapat dua tipe bronkitis, yakni akut dan kronis. Bronkitis akut ditandai dengan batuk berdahak kekuningan dan demam. Bronkitis akut biasanya juga mengenai bagian paru lainnya.

Sementara bronkitis kronis ditandai dengan batuk lama, berdahak banyak, dan terutama terjadi pada saat tidur atau pada pagi hari. Penyakit ini biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas.

Terdapat juga tipe bronchitis yang lain, yaitu bronkitis iritatif bisa disebabkan berbagai jenis debu, asap dari asam kuat, amonia, sejumlah pelarut organik, klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida yang biasa terapat pada asap kebakaran hutan. Penyakit ini juga akibat dari polusi udara serta tembakau maupun rokok.

Gejala dari bronkitis pada awalnya adalah batuk-batuk tanpa dahak yang akan berubah menjadi berdahak dalam waktu beberapa hari kemudian. Batuk berdahak awalnya berwarna putih dan bisa berubah menjadi kuning sampai kehijauan kadang disertai demam bila disebabkan oleh bakteri.

Diagnosis ditegakkan selain dilihat dari gejala, juga melalui pemeriksaan fisik, untuk rontgen dada, umumnya masih dalam batas normal atau terdapat gambaran peningkatan corakan bronkovaskular. Pengobatannya adalah dengan pemberian antibiotik serta obat simptomatik lainnya.

Sedangkan bila disebabkan oleh virus, penyakit ini akan sembuh sendiri bila banyak istirahat serta makan makanan yang bergizi.Untuk perokok, dianjurkan berhenti merokok karena asap rokok bisa menjadi pemicu untuk serangan bronkitis. Bronkitis berbeda dengan Tuberkulosis.

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini adalah penyakit kronik dan menular dengan gejala batuk lebih dari 2 minggu disertai demam tidak terlalu tinggi, keringat malam serta terdapat penurunan berat badan.

Diagnosis tuberkulosis ditegakkan melalui pemeriksaan dahak dengan ditemukannya kuman TB atau rontgen dada. Pengobatan TB juga berbeda dengan bronkitis karena membutuhkan waktu lebih lama yaitu 6 bulan.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 25, 2008

Kerisauan Pelaut terhadap AIDS

Tanya:

Pengasuh Yth. Ketika saya masih berlayar ke luar negeri, antara lain ke Cina, Jepang, Singapura dan Malaysia saya sering kencan dengan pekerja seks komersial (PSK) di negara-negara tersebut. Selama berlayar di Indonesia saya juga suka berganta-ganti pasangan bila kepepet. Terkadang saya menggunakan kondom tapi terkadang pula tidak, jujur kuakui, terkadang saya lupa menggunakan kondom bila sudah keenakan.

Padahal, masalah HIV/AIDS sudah saya ketahui sejak masih duduk kuliah. Ayah saya seorang dokter di Surabaya. Saya tahu bahwa dengan berganta-ganti pasangan dan tidak menggunakan kondom, saya akan mudah terinfeksi HIV. Tetapi saya perlu jelaskan bahwa selama ini saya lebih memilih kencan di tempat ‘lokalisasi resmi’ karena kesehatannya terjaga.

Yang ingin saya tanyakan: (1) Apakah ada jaminan bahwa semua PSK yang berada dalam lokalisasi resmi bebas dari HIV? Selama ini saya hanya mau kencan dengan PSK yang berada dalam lokalisasi resmi, bila daerah yang saya kunjungi tidak ada tempat lokalisasi resmi, saya memilih onani. (2) Apakah onani dengan PSK ada risikonya (kami tidak melakukan seks oral atau seks anal)? Selama ini saya tidak pernah terkena penyakit kelamin, kondisi tubuh saya tetap sehat.

Su, Ketapang

Jawab:

Maaf, perilakumu memang berisiko tinggi tertular HIV karena melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan, dalam hal ini pekerja seks komersial (PSK). Ada kemungkinan salah satu di antara pasanganmu yang berganti-ganti itu HIV-positif karena mereka juga kencan dengan laki-laki yang berganti-ganti. Laki-laki ini pun kencan pula dengan perempuan yang berganti-ganti. Begitu seterusnya sehingga ada kemungkinan salah satu di antara mata rantai itu HIV-positif.

Pasangan seks yang sering berganti-ganti pasangan tidak hanya PSK. Perempuan yang sering kawin-cerai pun merupakan pasangan yang berisiko karena laki-laki yang mengawini mereka juga sudah mempunyai pasangan sebelumnya. Mungkin, pasangan mereka sebelumnya pun mempunyai pasangan pula. Jadi, jangan hanya melihat PSK atau waria sebagai orang yang sering berganti-ganti pasangan karena kawin-cerai juga termasuk orang yang berganti-ganti pasangan walaupun dalam ikatan nikah. Soalnya, ada kemungkinan salah satu dari pasangan mereka HIV-positif maka ada risiko penularan HIV.

Status HIV seseorang tidak bisa permenen. Misalnya, seorang PSK di pagi hari dites HIV. Hasilnya HIV-negatif. Tapi, kalau siang hari dia melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan beberapa laki-laki yang menjadi pelanggannya maka ada risiko tertular HIV karena ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang mengencaninya HIV-positif. Jadi, dalam waktu hanya hitungan jam pun status HIV seseorang bisa berubah kalau dia melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV. Maka, tidak ada manfaat ‘kartu sehat’ yang dipegang PSK biar pun di ‘lokalisasi resmi’. Soalnya, laki-laki yang datang ke sana tidak menjalani tes HIV sebelum berkencan sehingga ada risiko penularan. Kondisinya kian runyam karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang HIV-positif. Tapi, biar pun tidak ada tanda-tanda AIDS dia sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain, al. melalui hubungan seks yang tidak memakai kondom di dalam atau di luar nikah.

Tidak ada kaitan langsung antara ‘penyakit kelamin’ dengan penularan HIV karena penularan HIV tidak hanya melalui hubungan seks. Tapi, kalau seseorang tertular ‘penyakit kelamin’ maka kalau yang menularkan ‘penyakit kelamin’ itu HIV-positif maka ada kemungkinan terjadi juga penularan HIV. Lagi pula tidak ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada diri seseorang yang tertular HIV sebelum mencapai masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV).

(1) Tidak ada jaminan bagi siapa saja apakah dia bebas HIV atau tidak karena status HIV seseorang tergantung dari perilakunya, terutama dalam hal seks. Orang yang sering melakukan hubungan seks tanda kondom, di dalam atau di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan (PSK dan waria) maka berisiko tinggi tertular HIV. Dalam kaitan ini PSK yang di ‘lokalisasi resmi’, lokalisasi liar, di jalanan, di apartemen atau di hotel mewah perilakunya tetap berisiko tinggi tertular HIV karena berkencan dengan laki-laki yang silih berganti.

(2) Onani bukan perilaku berisiko. Tapi, kalau yang melakukan onani orang lain, seperti PSK, ada risiko penularan HIV karena ada kemungkinan PSK tadi HIV-positif dan ketika onani ada darah atau cairan vagina yang masuk ke tubuh yang dionani. Maaf, kalau kau melakukan ‘kegiatan’ lagi ketika PSK tadi melakukan onani terhadap dirimu maka ada risiko kalau tangan bersentuhan dengan cairan vagina atau terjadi ciuman ketika PSK tadi sariawan.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 21, 2008

Kesehatan Gigi dan Mulut

1. Mulut Bau, Gusi Berdarah

Tanya:

Dokter kalau mulut sering berbau walaupun sudah sering sikat gigi, gusi kadang-kadang berdarah dan timbul sariawan itu kenapa ya?

AD, Na. Suhaid

Jawab:

Bau mulut disebut juga dengan istilah 'Halitosis' penyebab utamanya adalah bakteri dalam rongga mulut yang tidak stabil, Kenapa bisa ada bakteri di dalam rongga mulut yang tidak stabil? Ya itu lagi karena bila keadaan mulut kita kurang bersih dapat menyebabkan keseimbangan bakteri dalam rongga mulut tidak stabil sehingga bakteri-bakteri dalam mulut itu mengeluarkan toksin (racun) yang bisa menyebabkan bau mulut dan peradangan di gusi, bila disentuh sedikit gusinya maka mudah terjadinya perdarahan di gusi tersebut.

Untuk sariawan disebut juga istilahnya Stomatitis Apthousa, sariawan yang sering kambuh disebut juga Stomatitis Apthousa Recuren. Banyak faktor penyebab terjadinya sariawan, baik disebabkan karena faktor trauma mekanis (maksudnya luka karena sikat gigi), juga faktor endogen tubuh (dari dalam tubuh kita).

Untuk gusi berdarah disebut juga dengan istilah 'Gingivitis', ini juga bisa karena faktor bakteri dalam rongga mulut. Jika merasa punya keluhan seperti di atas sebaiknya perbaiki lagi pola hidup sehat (healthy life style) kita, maksudnya mulai dari pola makan, minum juga kebiasaan sikat gigi diatur lebih baik lagi juga sebagai tambahan gunakanlah obat kumur yang bisa didapatkan dengan mudah di apotik dan toko obat. Terimakasih.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post


2. Gigi Berlubang

Tanya:

Dokter jika membiarkan gigi berlubang dalam waktu lama ada efek yang buruk atau tidak? Benarkah ada yang bilang katanya penyakit juga bisa disebabkan karena pengaruh gigi berlubang. Wah gawat ya?

STY, Singkawang

Jawab:

Gigi berlubang kalau dibiarkan lama bisa menyebabkan banyak hal.

Gigi jadi Non Vital disebut juga gigi menjadi mati sehingga gigi tidak berfungsi dengan baik.

Gusi tempat melekatnya gigi menjadi busuk disebut juga abses dimana ada nanah (kumpulan kuman) didalam gusi.

Bila pertahanan tubuh baik, gigi dan jaringannya tidak menjadi busuk tetapi akan timbul jaringan/regenerasi sel-sel gigi dan jaringan pendukungnya yang tidak sempurna atau disebut juga dengan istilah gangren.

Jika sudah gangren ini tidak dicabut atau tidak dibuang maka bisa menjadi tumor bahkan akan terjadi keganasan tumor.

Bila tidak menimbulkan terjadinya gangren, bisa terjadi pertumbuhan jaringan gusi berlebih disebut juga pulpa polip yang bentuknya seperti daging normal.

Ini beberapa hal kemungkinan bila membiarkan gigi berlubang, apalagi bila disertai oral hyegene (maksudnya menjaga kebersihan gigi dan mulut) yang buruk. Memang sih proses terjadi ini semua membutuhkan waktu yang tidak cepat tetapi yang pasti dijamin bila semakin dibiarkan akan seperti di atas.

Di samping itu ada beberapa penyakit tubuh yang bisa disebabkan juga karena gigi berlubang ini disebutnya dengan istilah fokal infeksi. Penyakit timbul karena peranan gigi berlubang yang dapat menyebarkan bakteri patogen (pembuat penyakit) ke dalam tubuh.

Misalnya: Endokarditis (peradangan katup jantung) terjadi karena bakteri dari rongga mulut masuk melewati pembuluh darah yang berasal dari gigi yang berlubang yang mengandung kuman. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian, lho! Semoga bisa menjawab pertanyaan, terimakasih.

Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment
Made with WordPress and Semiologic • Sky Gold skin by Denis de Bernardy