May 15, 2008

Sulit Menelan

Tanya:

Dokter yang baik, saya pria berusia 48 tahun. Keluhan saya, bila menelan makanan sering sulit bahkan keluar kembali, seperti tenggorokan sempit. Bagaimana cara mengatasinya. Terima kasih dokter atas jawabannya.

085269859***

Iwan, Tanggamus


Jawaban :

Bapak Iwan yang saya hormati, terima kasih atas pertanyaan yang ditujukan kepada saya. Saya akan berusaha menjawabnya. Kesulitan dalam hal makan dan minum, dalam ilmu kedokteran diistilahkan sebagai disfagi. Proses menelan sebenarnya dibagi dalam tiga tahap atau fase, yaitu fase oral, faringeal dan esofageal. Fase oral dapat dikontrol sepenuhnya oleh seseorang. Ia bisa tetap mengunyah atau menahan makanan tersebut di mulut, jika merasa belum waktunya makanan tersebut ditelan. Jika ia telah melakukan proses menelan, prosesnya akan berlanjut ke fase faringeal dan esofageal yang fungsinya akan sangat tergantung dari fungsi peristaltik atau kontraksi secara beraturan, yang diatur oleh saraf-saraf otonom yang tidak dapat dikendalikan, dan kondisi saluran makanannya (esofagus).

Kasus-kasus disfagi pada umumnya disebabkan dua hal, yaitu faktor mekanis dan neurologis. Faktor mekanis berhubungan dengan gangguan atau kelainan pada jalur makanannya, dapat berupa peradangan atau infeksi, gangguan pembukaan atau penutupan sfinkter, tumor, atau penyempitan yang disebabkan dorongan dari luar esofagus pada segmen tertentu.

Sedangkan disfagi yang bersifat neurologis disebabkan gangguan persarafan yang mengatur pergerakan peristaltik esofagus, seperti pada kasus achalasia, ensefalitis atau radang otak ataupun stroke. Agar kasus disfagi dapat ditangani dengan baik, disarankan mendatangi dokter spesialis terkait untuk mencari penyebab keluhan tersebut, sehingga dapat dilakukan penanganan yang benar sesuai dengan penyakit atau kelainan yang mendasarinya. Demikian jawaban saya, semoga dapat membantu Bapak Iwan.

dr. Fatah Satya W., Sp.T.H.T.-K.L. (Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan)

 

Sumber : Lampung Post

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 17, 2008

Mengatasi Ejakulasi Dini

Tanya :

Dokter yang baik, saya memiliki masalah, mohon kiranya dokter memberikan solusi atau penjelasan. Setiap berhubungan suami istri, sperma saya cepat keluar, kadang-kadang baru pemanasan sudah keluar. Hal ini mani encer atau ejakulasi dini? Mohon penjelasan dokter dan bagaimana pengobatannya?

Anwar

Metro

Jawaban :

Bapak Anwar yang saya hormati. Kalau mengikuti keluhan yang Bapak sampaikan, memang sesuai dengan keadaan yang disebut ejakulasi dini yang dahulu pernah populer dengan istilah "edi tansil": ejakulasi dini tanpa hasil. Salah satu batasan atau definisi ejakulasi dini adalah ketidakmampuan seseorang mengontrol ejakulasinya dalam waktu singkat dan tidak sesuai dengan keinginan.

Sebetulnya masalah ejakulasi dini bukan hanya menjadi problem suami, tetapi juga nantinya menjadi masalah istri. Bagi pasangan suami-istri (pasutri), keharmonisan dalam membina rumah tangga termasuk "hubungan suami istri" yang sehat. Kadang-kadang permasalahan yang muncul dalam suatu rumah tangga, dimulai dari tidak beresnya "urusan tempat tidur" ini. Maka setiap pihak harus menyadari dan memahami bahwa untuk urusan tersebut, jangan sampai mau menang sendiri tanpa memikirkan pasangannya; harus sama-sama mendapatkan kepuasan, bahkan konsep lady firs atau wife first harus diterapkan di sini. Namun, yang terjadi kadang-kadang tidak seperti yang diharapkan, Bapak "puas" sementara istri tidak sehingga harus dicarikan solusinya. Sudah sangat bagus bahwa Bapak merasakan keluhan ini menjadi masalah yang harus dicarikan jalan keluarnya.

Ejakulasi dini termasuk kelompok penyakit disfungsi seksual. Selain ejakulasi dini, disfungsi ereksi masuk juga kelompok ini. Laki-laki dengan disfungsi ereksi pada umumnya mengalami ejakuasi dini, sedangkan laki-laki dengan ejakulasi dini akhirnya akan mendapat disfungsi ereksi. Dari suatu penelitian didapatkan bahwa 1 dari 3 laki-laki "aktif secara seksual" mengalami keluhan ini. Keluhan ejakuasi dini diderita di segala usia dengan berbagai latar belakang kehidupan.

Apa penyebabnya? Ejakulasi dini tidak datang sendiri. Aspek psikis cukup berperan, misalnya stres berkepanjangan, ingin cepat selesai saat berhubungan dan sebagainya. Yang disebut terakhir ini, sering dilatarbelakangi riwayat kebiasaan onani yang "cukup sering" saat masih bujangan dan terbawa waktu sudah punya istri. Aspek fisik yang lebih sering, dihubungkan dengan adanya gangguan kontrol saraf dan adanya peran dari bahan yang dikenal dengan serotonin, yaitu "pemancar saraf" atau berlanjut timbulnya rasa "takut" atau khawatir saat akan berhubungan, yang berakhir dengan keluhan rasa nyeri saat berhubungan (dyspareuni).

Bagaimana pengobatannya? Sebelum sempat berkonsultasi ke dokter, Bapak dapat mencoba tips berikut.

- Saat berhubungan, alihkan pikiran ke hal-hal "di luar seks", misalnya memikirkan sesuatu yang tidak disukai, dengan tujuan untuk mengurangi "rangsangan".

- Mengurangi sensitivitas pada Mr. P dengan mengenakan kondom atau mengoleskan "krim", tapi yang disebut terakhir ini juga akan berpengaruh pada sensitivitas si istri.

- Menggunakan teknik interuptus, yaitu mencabut sesaat sebelum klimaks, kemudian "kegiatan" dilanjutkan kembali, tapi teknik ini memerlukan kerja sama pihak istri.

- Memilih "posisi" yang paling memungkinkan hubungan menjadi lebih lama.

- Jangan memaksakan berhubungan intim saat sedang lelah atau stres.

- Tenangkan diri saat berhubungan, yakinkan bahwa Anda sehat, kuat, dan dapat membuat pasangan untuk mencapai klimaks

Jangan pernah memilih metode-metode terapi yang bersifat coba-coba yang justru akan berakibat fatal. Semoga Bapak puas dengan jawaban saya.

dr. Arif Effendi, Sp.K.K. (Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin)

 

 

Sumber : Lampung Post

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

April 16, 2008

Tali Pusat Bayi Berdarah

Tanya:

Dokter yang baik, dalam surat ini, maaf apabila saya mengajukan 3 pertanyaan. Saya mempunyai bayi berusia 4 bulan. Berat lahir 3,1 kg kini 6,3 kg. Pertanyaan pertama, ketika berusia satu bulan, pusar bayi saya berdarah, dokter menyarankan diberi Betadin Kids, dan kemudian sembuh. Tetapi tiga bulan selanjutnya kembali memerah. Dokter, apakah itu berbahaya?

Kedua, sudah hampir seminggu ini terkena batuk. Sudah dibawa ke dokter, tetapi tidak kunjung sembuh. Batuknya terus berulang, apalagi kalau cuaca dingin. Dokter, apakah itu batuk kronis, dan bagaimana mengatasinya?

Pertanyaan terakhir, anak tetangga saya yang berusia 3 tahun baru-baru ini meninggal dunia karena DBD. Hal itu membuat shock kedua orang tuanya karena sebelum meninggal kulit si anak tidak ada tanda bintik merah. Dokter apakah demam berdarah dengue (DBD) pasti diikuti dengan tanda tersebut? Terima kasih dokter atas jawabannya.

Maria

Bandar Lampung


Jawaban :

Terima kasih ibu atas apresiasinya untuk rubrik ini sehingga menulis tiga pertanyaan sekaligus. Saya mencoba menjawab. Jawaban pertama, ibu tidak perlu terlalu mencemaskan keluhan ini. Jelasnya itu bukan pendarahan.

Keluhan ada darah dari tali pusat biasanya terjadi karena ada bekuan darah yang tidak dibersihkan. Tetapi kalau benar-benar yang keluar adalah darah segar, perlu diperiksa lebih lanjut, apakah itu penyakit hematologi (sistem darah).

Kedua, apabila menemukan batuk yang sering berulang pada anak-anak, penyebabnya alergi pda debu. Perlu diketahui, selama ini seriang ada salah paham di masyarakat, bila batuk kronis dianggap TBC. Padahal anak dengan TBC sering tidak batuk, tetapi kurus dan tidak mau makan, ditambah demam yang tidak tinggi secara berulang.

Cara mengatasinya, hindari anak dari sumber debu, seperti boneka, buku-buku tua, gorden yang lama tidak dicuci, bulu kucing, burung, obat nyamuk, asap rokok, parfum, aroma masakan, dan sebagainya. Ibu dianjurkan menggunakan penghisap debu untuk mengurangi debu.

Ketiga, DBD tidak selalu diikuti dengan munculnya bintik merah pada kulit. Itu hanya salah satu gejala yang terlihat karena kemungkinan pendarahan itu terjadi pada organ tubuh dalam. Yang pasti, jika anak sudah demam terus-menerus selama tiga hari patut dicurigai terkena DBD. Juga ditandai dengan pembesaran hati yang mendadak dan nyeri pada penekanan.

Lalu, gejala laboratorium ditunjukkan dengan jumlah trombosit dan nilai hematokrit. Jika trombosit cenderung turun dan hematokrit cenderung meninggi, artinya DBD menyerang. Pada kondisi yang berat, bisa terjadi dengue shock syndrome (DSS), dengan tanda-tanda anak lesu, kesadaran turun, nadi tidak teraba, frekuensi nadi cepat, yang mencolok kulit ekstreminitas basah karena keringat dan teraba dingin. Demikan jawabannya.

dr. Ruskandi M., Sp.A. (Spesialis anak)

 

 

Sumber : Lampung Post

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment