February 12, 2008

HIV dan ‘Kumpul Kebo’

Tanya:

Pengasuh Yth, Sudah hampir empat tahun saya tinggal serumah dengan seorang laki-laki yang bekerja di kapal tanpa ikatan pernikahan. Laki-laki itu sudah bertugas di beberapa kota di Indonesia bahkan pernah bekerja di Singapura. Tetapi hampir empat tahun ini kami hidup sebagai suami istri bila kapalnya singgah di Parepare.

Suatu hari, ketika kami kencan dia mengeluh penisnya sakit. Ketika itu katanya luka karena terkena resleting celananya. Anehnya luka itu sangat lama, bahkan satu bulan kemudian alat kelamin saya juga ikut sakit. Ketika saya periksa ke dokter, saya kaget karena dinyatakan sifilis. Saya lebih kaget lagi ketika dokter menanyakan suami saya. tubuh saya panas dingin dan gemetar, tidak tahu harus bilang apa. Ketika itu saya tidak jadi membeli obat biar pun sudah ada resep.

Saya memilih ke berobat ke Makassar. Saya berobat hingga dinyatakan sehat oleh dokter. Tapi, teman kumpul kebo saya tidak mau berobat dengan alasan penisnya hanya luka biasa bukan karena sifilis. Yang ingin saya tanyakan: (1) Apa benar penis teman kumpul kebo saya luka karena resleting celana atau memang dia sifilis?

Menurut dokter di Makassar saya tertular sifilis dari teman ‘kumpul kebo’ku karena sejak kami ‘kumpul kebo’ saya tidak pernah lagi kencan dengan laki-laki lain. Saya juga ingin tahu: (2) Apakah teman ‘kumpul kebo’ saya HIV? Selama ini dia selalu batuk-batuk selama saya tinggal serumah dengannya. Saya juga ingin tahu: (3) Bagaimana caranya agar tahu bahwa teman kencan saya HIV. (4) Apakah ada tanda-tanda lain di sekitar penis?

Nn. Sel

Jawab:

Tidak ada kaitan langsung antara ikatan pernikahan yang sah, baik menurut agama, kepercayaan atau negara dengan penularan HIV/AIDS. Sebagai virus HIV dapat menular melalui hubungan seksual pada pasangan suami istri jika salah satu dari pasangan itu HIV-positif dan suami tidak memakai kondom pada saat hubungan seks. Sebaliknya, biar pun tidak menikah, ‘kumpul kebo’ atau zina kalau kedua-duanya HIV-negatif maka tidak akan pernah terjadi penularan asalkan kedua-duanya tidak melakukan hubungan seks dengan pasangan lain.

(1) Kita tidak bisa menentukan apa penyebab luka pada penis temanmu. Untuk memastikannya harus diperiksa oleh dokter. (2) Tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas pada diri seseorang yang tertular HIV sebelum mencapai masa AIDS yaitu antara 5 – 10 tahun setelah tertular.

Pada masa AIDS seseorang yang HIV-positif sangat mudah diserang penyakit sehingga sering muncul beberapa penyakit pada dirinya, seperti diare, ruam, TB, dll. Tapi, bair pun ada gejala-gejala ini tapi untuk memastikan apakah ybs. HIV-positif harus melalui tes HIV dan diagnosis (pemeriksaan) dokter. (3) Ya, dengan menjalani tes HIV. Tes ini hanya bisa dilakukan di laboratorium tertentu dengan pengantar dari dokter. (4) Pada orang-orang yang tertular HIV infeksi tidak terjadi di alat kelamin, penis atau vagina, tapi di darah dalam tubuh.

Karena merasa was-was ada baiknya ajak dia menjalani tes HIV sukarela. Kalau dia tidak mau akan lebih baik kalau Anda yang menjalani tes. Soalnya, kalau seseorang tertular sifilis atau GO berarti dia sudah melakukan hubungan seks tanpa kondom sehingga ada risiko tertular HIV kalau teman kencannya yang menularkan sifilis atau GO juga HIV-positif.

Tapi, karena tidak ada gejala-gejala dan tanda-tanda yang khas pada diri seseorang yang tertular HIV maka banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Kalau tertular sifilis atau GO dalam beberapa hari sudah ada gejala-gejala, misalnya, perih atau sakit ketika kencing, sehingga orang menyadari dirinya sudah kena penyakit.

Team Pengasuh INFO KESPRO

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

January 18, 2008

Menghilangkan HIV dari Darah

Tanya:

Pengasuh Yth, apakah dengan menggunakan piring dan pakaian yang telah dipergunakan oleh orang yang HIV-positif (ODHA) dapat terjadi penularan?

Soalnya kami punya keluarga yang HIV-positif dan sedang dalam perawatan. Karena takut tertular kami menggunakan sarung tangan bila menyentuhnya. Ketika sakit dipisahkan perabot yang ia pakai makan dan minum.

(Usman, Pontianak)

Jawab:

Yang perlu diingat adalah bahwa HIV dalam jumlah yang dapat ditularkan pada tubuh seseorang yang HIV-positif hanya terdapat di cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani (laki-laki, dalam sperma tidak ada HIV), cairan vagina (perempuan), dan air susu ibu (perempuan).

Maka, penularan HIV melalui darah seseorang yang HIV-positif bisa terjadi kalau darah masuk ke tubuh orang lain melalui transfusi darah, jarum suntik, jarum tindik, jarum tattoo, jarum akupunktur, cangkok organ tubuh, dan terpapar pada permukaan kulit yang ada luka-lukanya.

Penularan HIV melalui air mani dan cairan sperma seseorang yang HIV-positif bisa terjadi pada saat terjadi hubungan seks tanpa kondom di dalam atau di luar nikah dengan pekerja seks atau bukan pekerja seks.

Penularan melalui air susu ibu (ASI) seseorang yang HIV-positif bisa terjadi pada proses menyusui. Hanya ini cara penularan HIV. Melindungi diri dari berbagai penyakit diperlukan karena ada penyakit yang bisa menular melalui udara, air, keringat, air liur, kotoran, dll.

Tanya:

Pengasuh Yth., Apakah setelah minum ARV virus HIV bisa hilang dalam darah?

(Didi, Pontianak)

Jawab:

Sampai sekarang belum ada satu pun jenis virus yang ada dalam tubuh manusia bisa dimusnahkan. Contohnya, virus flu. Ketika seseorang tertular flu maka yang diobati adalah simptomnya, seperti demam atau batuk.

Sedangkan virus flu dilemahkan dengan obat. Begitu pula dengan HIV yang bisa dilakukan hanya menekan pertumbuhan virus itu di dalam darah yaitu dengan obat antiretroviral (ARV).

Misalnya, satu hari HIV menggandakan diri 10, tapi kalau minum ARV maka penggandaan hanya 7. Ini membuat kondisi orang yang meminum ARV itu bisa tetap terjaga kesehatannya.

Soalnya, penggandaan HIV sejalan dengan kerusakan sel-sel darah putih. HIV makin banyak maka sel darah putih makin sedikit sehingga mudah diserang penyakit. Dengan ARV sel-sel darah putih ‘dipertahankan’ sehingga penyakit tidak mudah menyerang.

Team Pengasuh LSM Infokespro

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

December 27, 2007

Kencan Sesama Jenis

Tanya:

Pengasuh Yth. Sejak lima tahun belakangan ini, saya mengalami kelainan seks, usia saya sudah 25 tahun. Bukan karena frustasi terhadap perempuan, sejak kecil hingga usia saya 20 tahun saya laki-laki tulen. Ketika masih duduk di bangku SMA, tiga kali saya pacaran dengan perempuan dan pernah melakukan hubungan intim, umumnya pasangan saya mengakui kehebatanku di ranjang.

Tahun 1999, karena tidak mendapat pekerjaan, saya memutuskan kerja di salon atas ajakan teman. Karena umumnya teman yang kerja dan pemilik salon waria, maka pergaulan saya ikut berubah. Bukan hanya itu, hubungan seks saya juga demikian setelah suatu malam saya dikencani bosku.

Awalnya saya jijik dan memberontak, tetapi setelah kencan berikutnya, saya menikmatinya. Bahkan saya merasa lebih nikmat kencan dengan waria dari pada perempuan. Kencan dengan waria atau laki-laki lebih nikmat karena yang main adalah mulut dan anus. Sedangkan dengan perempuan umumnya tidak ada yang bisa tahan dengan permainan mulut.

Yang ingin saya tahu, apakah saya masih bisa kencan dengan perempuan atau bagaimana, tetapi kalau saya mesti jujur, nafsu saya pada perempuan sudah kurang. Saya pernah coba kencan dengan perempuan pekerja seks komersial tapi penis saya sangat sulit ereksi.

Bagaimana caranya agar saya bisa kencan dengan perempuan seperti sedia kala. Teman kencan saya bilang, kalau kencan sama laki-laki risiko terinfeksi HIV sangat kecil. Berbeda bila kencan dengan perempuan, risiko terkena HIV sangat besar. Saya mohon penjelasan. (Si, Pontianak)

Jawab:

Maaf, kami membatasi konsultasi hanya pada masalah HIV/AIDS. Pertanyaan ini terkait dengan aspek psikologis. Sebaiknya konsultasi dengan psikolog. Tapi, ada hal yang terkait langsung dengan HIV/AIDS yaitu tentang pernyataan teman kencanmu itu yang menyebutkan “kencan sama laki-laki risiko terinfeksi HIV sangat kecil, sedangkan kencan dengan perempuan risiko tertular HIV sangat besar”.

Informasi ini tidak benar karena setiap ada pergesekan penis dengan vagina atau dengan dengan dubur tetap ada risiko jika tidak memakai kondom. Bahkan, tingkat risiko penularan HIV jauh lebih besar jika penis yang tidak memakai kondom masuk ke dubur karena permukaan dan dinding lubang dubur kasar serta tidak ada cairan seperti pada vagina.

Selain itu perilakumu juga merupakan perilaku berisiko tinggi tertular HIV karena berganti-ganti pasangan, baik secara heteroseksual maupun homoseksual. Sebelum mencapai masa AIDS (antara 5 – 10 tahun) tidak ada gejala yang khas sehingga banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV.

Tapi, biar pun tidak ada gejala seseorang yang HIV-positif sudah bisa menulari orang lain, misalnya, melalui hubungan seks yang tidak memakai kondom, heteroseks (laki-laki dengan perempuan), seks orang dan seks anal, serta homoseksual (laki-laki dengan laki-laki).

Team LSM Infokespro

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

December 13, 2007

Jarum Suntik Gantian Dengan Pacar, Tertular HIV?

Masalah :

Ibu Rifka, tolong bantu saya. Saya memang sering menggunakan narkoba baik itu ineks dan shabu-shabu dan pernah juga menggunakan putau. Saat menggunakan putau saya selalu memiliki jarum untuk diri sendiri. Namun beberapa bulan yang lalu saya menggunakan putau dengan menggunakan jarum suntik yang bergantian dengan cowok saya. Akhir-akhir saya sering baca di koran bahwa penularan HIV sangat cepat terhadap orang yang bergantian dengan jarum suntik. Dimanakah bisa mendapatkan test HIV secara mudah?

Sari, Pontianak

Jawaban :

Terima kasih sari atas kiriman suratnya yang dipercayakan kepada kami. Saya bisa memahami kegelisahan yang kamu alami sekarang. Kita akan bahas permasalahan kamu satu-persatu

HIV dan AIDS merupakan dua hal yang berbeda, namun masih berkaitan. HIV singkatan dari Human Immuno Deficiency Virus, yaitu virus yang dapat menyerang kekebalan tubuh manusia. AIDS singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrom, yaitu kumpulan dari berbagai penyakit karena melemahnya kekebalan tubuh yang diakibatkan infeksi HIV.

HIV/AIDS dapat menular karena adanya pertukaran cairan darah, cairan sperma dan cairan vagina. Perilaku yang berisiko terhadap penularannya yaitu transfusi darah yang mengandung HIV, penggunaan jarum suntik bekas yang tidak steril, dan hubungan seks yang dilakukan secara berganti-ganti pasangan dan tidak menggunakan pengaman (kondom). Setiap orang yang melakukan perilaku berisiko tersebut, mempunyai risiko untuk tertular HIV/AIDS, karena ciri-ciri orang terinfeksi HIV dan permulaan AIDS tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan melakukan tes darah.

Secara garis besar, tahapan AIDS dibagi menjadi tiga, yaitu:
tahap pertama terjadi infeksi HIV. Fase ini dapat berjalan 5-10 tahun, tergantung dari kekebalan tubuh seseorang. Jika tidak diberikan obat yang dapat mempertahankan kekebalan tubuh dan menjaga kondisi kesehatan dengan baik, maka akan masuk pada fase kedua, di mana sistem kekebalan tubuh semakin rusak sehingga mudah terserang penyakit. Jika kondisi ini tidak segera membaik akan berlanjut pada tahap AIDS. Pada tahap ketiga ini, muncul penyakit-penyakit spesifik misalnya radang paru-paru, kanker kelenjar atau kanker kulit karena infeksi oportunis karena daya tahan tubuh menurun.

Tes HIV dapat dilakukan dengan mudah di beberapa laboratorium. Tetapi, jika sebelumnya Saudari Maya menginginkan informasi yang jelas, perlu mempersiapkan mental dan informasi rujukan jika hasilnya positif, PKBI mempunyai konselor khusus untuk mempersiapkan tes HIV dan menjamin kerahasiaannya.

Saran kami, untuk menghilangkan kebiasaan tersebut Saudari harus mempunyai kemauan yang kuat dengan mempertimbangkan risikonya. Sedangkan untuk menghilangkan efek racun yang terlanjur berada dalam tubuh, Saudari Sari dapat meminta bantuan dokter atau ahli terapi narkoba.

Jika Saudari ingin segera mengetahui tertular atau tidaknya, dapat menghubungi konselor khusus HIV/AIDS PKBI. Mengetahui penyakit sejak dini, berarti akan memperoleh pengobatan secara cepat. Dengan demikian, Sari akan mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Salam.

dr. Rifka

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

October 29, 2007

ODHA Tak Berhak Punya Anak, Benarkah?

Tanya:

1. Pengasuh Yth, Bagaimana cara penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak? Apakah dalam sperma ada HIV?

    Kus, Pontianak

2. Pengasuh Yth., Apakah kalangan lesbian bisa tertular HIV padahal sangat jarang kencan dengan laki-laki?

    Wati, Pontianak

3. Pengasuh Yth., Bagaimana caranya kami memperoleh ARV bila Global Fund hengkang dari Indonesia? Padahal selama ini kami tergantung dari ARV dan tidak mungkin bisa membeli sendiri setiap bulan karena kami berasal dari kalangan menengah ke bawah.

        Is, Pontianak

4. Pengasuh Yth., Benarkah Odha tidak berhak memiliki anak karena anaknya juga akan tertular HIV?

        Dina, Pontianak

Jawab:

Menjawab pertanyaan dari Kus di Pontianak, penularan HIV dari ibu yang HIV-positif ke anak yang dikandungnya terutama terjadi pada saat persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI). Jika tidak ditangani oleh dokter maka risiko penularan antara 15 – 30 persen.

Artinya, jika ada 100 ibu yang HIV-positif melahirkan maka antara 15 – 30 bayi yang dilahirkan berisiko tertular HIV. Tapi, kalau ditandai dokter maka risiko penularan di bawah 8 persen. Ingat, HIV bukan penyakit turunan tapi penyakit menular sehingga bis dicegah. Di dalam sperma tidak ada HIV. Seorang laki-laki yang HIV-positif bisa mempunyai anak yang HIV-negatif melalui proses bayi tabung asalkan istrinya HIV-negatif.

Menjawab persoalan yang dialami Wati di Pontianak, kalau kencan (melakukan hubungan seks tanpa kondom) dengan laki-laki yang berganti-ganti maka ada risiko tertular HIV. Kalau kencan sesama lesbian tidak ada risiko penularan HIV asalkan tidak memakai narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) dengan jarum suntik yang dipakai bergantian.

Untuk Is di Pontianak, untuk mendapatkan ARV, silakan hubungi KPAD di tempat Anda untuk menanyakan apakah dalam APBD ada dana pembelian ARV. Inilah masalah besar di negara-negara berkemang, seperti Indonesia, penanggulangan HIV/AIDS didanai dengan bantuan negara donor dan lembaga-lembaga internasional karena ketiadaan dana.

Celakannya, dana tidak ada tapi upaya pencegahan tidak dilakukan dengan baik. Bahkan, yang terjadi justru upaya-upaya untuk menyangkal keberadaan HIV/AIDS dan mengaburkan fakta medis HIV/AIDS dengan cara mengait-ngaitkan HIV/AIDS dengan moral dan agama. Akibatnya, yang muncul hanya mitos (anggapan yang salah) sehingga msyarakat tidak mengetahui cara-cara yang realistis dalam mencegah penularan HIV.

Pernikahan ODHA, seperti yang dikhawatirkan oleh Dina di Pontianak, HIV/AIDS bukan penyakit turunan sehingga bisa dicegah. Pengidap penyakit turunan, seperti diabetes atau thalasemia, tetap menikah dan mempunyai anak yang otomatis mengidap penyakit tersebut.

Ada tehnik-tehnik yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan HIV pada pasangan yang salah satu atau dua-duanya HIV-positif. Hal ini sudah dilakukan di Indonesia. Sedangkan penyakit turunan tidak bisa dicegah.

AIDS LSM

 

Sumber : Pontianak Post

 

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

October 22, 2007

HIV dan Obsessive-Compulsive

Pertanyaan :

Mommies,

Beberapa waktu yg lalu saya sempet ngobrol di telpon sama temen di Surabaya soal virus HIV. Sampelah omong-omong kita ke cara penyebarannya. Dia pernah baca di sebuah artikel kalo jarum suntik yg bekas digunakan seseorang yg menderita HIV kalo dibiarkan saja selama 30 menit, nanti virusnya akan mati sendiri, jadi kita sih tidak usah terlalu "freak-out". Kurang lebih gitu deh omongan beliau ini.

Tentu aja saya gak setuju, soalnya saya belum pernah dengar soal ini. Akhirnya kita saling ngotot pd pendapat masing-masing. Yg ingin saya tanyakan, betul tidak sih pendapat temen saya tadi? Menurut temen-temen, saya ini agak "freak-out"… selalu khawatir ini-itu… bahkan saya aja gak seneng seandainya pisau dapur jadi bahan pinjem-pinjeman (rada gak tega aja, lagian takut klo orang lain tangannya keiris dan darahnya kena ke pisau terus nyuci pisaunya kurang bersih… hiiiii..). Jangankan soal HIV, katanya lagi saya tuh paling ribut soal kebersihan, dikit-dikit takut gak sterile.. makanya dicibir habis-habisan sama dia. Malah ada temen saya yg bilang kalo saya tuh kayak Monica Geller di film "Friends"… sebel khan? Mosok saya obsessive-compulsive gitu sih?

Saya jadi introspeksi, soalnya kata suami, emang sih saya rada-rada gitu. Dia malahan bilang, mosok nggantung baju aja arahnya harus sama, seisi rumah pengaturannya harus alphabetical order A to Z, cuci tangan tiap menit, sampe tidur di hotel pun khawatir kalo gak bersih dan gak tega ngebayangin bekas dipake orang banyak … itu baru contoh-contoh yg paling terlihat… gitu deh katanya… makin sebel khan saya? Kata suami saya, germphobia…. istilah bikinan dia tuh.. Apa bener saya nih menunjukkan obsessive-compulsive?? (Na'udzubillah deh!)

Mommies di WRM khan banyak yg dokter (mungkin ada juga yg psychiatrist ;-) )… boleh dibantu bagi-bagi infonya. Makasih banyak sebelumnya.

Wassalam,
Mom D di Minneapolis

Jawaban :

Dear mom D n moms,

Seperti kita tau, HIV itu menyebar terutama lewat darah, cairan-cairan (sperma/vagina), dan plasenta (ibu ke janin). Jadi, jalur utama penularannya adalah lewat transfusi, jarum suntik dan hub sex.

Pertanyaannya, jarum suntik bekas pakai pengidap HIV kalau dibiarkan 30 menit apakah masih menular? Sebetulnya tergantung jumlah konsentrasi si virus. Kalau dalam konsentrasi sangat tinggi, ada peneliti yang bilang, diluar tubuh, dia bisa hidup dalam hitungan jam/ hari baru kemudian mati.

Tapi prinsipnya virus ini hanya bisa hidup dalam wadah tertutup, tak tahan dengan udara luar. Ketika virus ini terpapar udara luar, bukan udara yang menyebabkan dia mati, tapi paparan udara nya membuat cairan yang
membawa virus jadi kering, sehingga si virus tak tahan dan mati. Virus ini bersifat fragile, mudah sekali rusak oleh perubahan suhu, dan dia butuh oksigen
supaya bisa hidup. Jadi misalnya terkena air panas, sabun, bleaching agent atau alkohol, dia bisa cepat rusak atau mati.

Jadi dalam keadaan lingkungan normal (jumlah konsentrasi virus standard), setelah 30 menit, jarum suntik bekas pakai pengidap HIV memang bisa dikatakan aman karena si virus akan cepat mati. Apalagi penularan sebenarnya baru terjadi kalau si jarum disuntikkan ke tubuh orang lain lewat pembuluh darah. Sebetulnya yang bisa menularkannya adalah sisa darah di syringe/spuit dari jarum suntik bekas pakai tadi (bukan darah sisa di jarumnya). Darah ini ada dalam wadah tertutup (syringe), jadi kalau dipakai lagi oleh orang lain, sangat mungkin akan menularkan virus, karena si virus masih hidup.

Walaupun jarum suntik itu aman dari HIV, tapi tidak aman buat virus hepatitis B/C. Virus hepatitis B/C ini tidak mudah rusak seperti HIV. Jadi kalau misalnya
kita memegang jarum suntik bekas penderita HIV, barangkali aman dari HIV, tapi tetap terancam terinfeksi hepatitis B/C.

Kesimpulannya moms, tetep aja harus hati-hati sama jarum suntik bekas pakai. Oya, kalau masalah alat cukur, atau kena cairan/darah kering pengidap HIV,
sebetulnya kemungkinan tertularnya kecil. Tapi tetap aja harus hati-hati karena, takutnya waktu memegang itu, ada luka kecil di bagian tubuh kita yang kasat
mata, dan si virus bisa masuk lewat situ. Lebih baik mencegah daripada mengobati kan moms :-)

Prinsipnya memang hati-hati, tapi kalau terlalu hati-hati apa nggak jadi obsessive-compulsive ya? :-)

Sebetulnya untuk mendiagnosa seseorang terkena obs-compulsive Disorder (OCD) ini perlu pengamatan dan syarat-syarat yang panjang dan tidak mudah. Mungkin yang lebih sering terjadi adalah obsesive-compulsive personality Disorder (OCPD), karena kalau OCD kondisinya biasanya lebih parah. Disebut OCPD pun bila gejala sudah berlangsung lama (biasanya muncul sejak ABG) dan mengganggu kerja serta hubungan sosial.

Jadi lebih baik berpikir tak terlalu jauh dulu. Tapi sebagai gambaran, ada 8 kriteria gejala, kalau ada 4 gejala atau lebih ada di seseorang, maka kemungkinan dia mengalami OCPD. Kira-kira kriterianya begini moms :
1. Kalau mengerjakan sesuatu maunya detil, rapi, pake daftar, organized dan terjadwal.
2. Merasa banyak ragu dan hati-hati sekali kalau mau melakukan sesuatu
3. Perfeksionis dalam menyelesaikan tugas-tugas
4. Terlalu hati-hati, teliti dan bekerja berlebihan dan tak mau melakukan kegiatan menyenangkan atau berteman.
5. Sangat taat pada aturan sosial
6. Kaku dan keras kepala, pelit
7. Keukeuh , tak mau menerima pendapat orang lain/ suka memaksakan pendapatnya
8. Tanpa alasan menolak melakukan sesuatu jika diminta oleh orang lain, enggan mendelegasikan tugas/ bekerja sama dengan orang lain.

Nah kalau ada 4 kriteria atau lebih, sudah berlangsung lama dan mengganggu hub sosial dan pekerjaan, baru deh ke psikiater :-) Itu pun biasanya therapi nya nggak pake obat, tapi pake terapi behaviour.

Jadi kesimpulannya hati-hati memang perlu ya moms, tapi supaya nggak jadi hati-hati yang berlebihan, mungkin kuncinya pasrah, ikhlas, yakin dan pede aja
insya Allah, Tuhan sayang ama kita kali ya :-). Selama kita selalu di jalanNya, mudah-mudahan dijauhkan dari segala penyakit itu. Amin…

Gitu deh moms, semoga membantu ya, dan maaf lho kalo ada yang kurang berkenan.

Wassalam hangat,

Agnes

Sumber : Agnes Tri H

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

September 19, 2007

Tes HIV

Hasil Tes Hiv Negatif

Masalah :

Assalamuallaikum wr. Wb

Dok, 5 tahun yang lalu saya pernah tranfusi darah. Sekarang mulai dari bulan agustus 2007 ini saya merasa badan saya cepat lemas, kadang suka demam, dan saya merasakan ada pembengkakan di leher, betis, bahu, lengan sepertinya pembengkakan kelenjar getah bening. pada tanggal 20 agustus 2007 saya tes hiv dengan tes rapid tenyata hasilnya negatif. pertanyaan: 1. Seberapakah akuratnya tes rapid itu dok? 2. Apakah saya perlu tes lagi, karena saya merasa sampai sekarang masih ada pembengkakakan di mana-mana, tenggorakan sakit, kesemutan, badan terasa lemas, kadng demam ringan? Trima kasih dok, saya harapkan balasan yang secepatnya dok.

Wassalamuallaikum wr. Wb

Raniah

Jawaban

Wa'alaikum salam, Mba Raniah.

Semoga penyakit yang ada segera Allah cabut, digantikan dengan kesembuhan. Dan pengalaman ini, menjadi hikmah bagi kehidupan kita.

Pertanyaan yang diajukan banyak ditanyakan juga oleh teman-teman yang lain. Terutama mengenai test HIV. Tujuan dari tes ini, seperti tes-tes yang lain, mendiagnosis infeksi HIV, di mana jumlah antigen HIV (p24) meningkat seiring dengan hancurnya sel pertahanan CD4 milik kita.

Antibodi HIV sendiri itu ada, ia terbentuk kurang lebih 3 sampai 6 minggu, bahkan bisa sampai 3 - 6 bulan. Di sinilah test sebaiknya dilakukan.

Rapid test yang Mba lakukan sesuai dengan rekomendasi UNAIDS-WHO, pertama kali dilakukan metode deteksi Antibodi, bila itu negatif maka sudah pasti dilaporkan negatif.

Lain halnya jika test pertama tersebut positif, maka dia akan di test dengan yang kedua, yaitu ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay) yang bisa mendeteksi antigen dan antibodi. Dan akhirnya dengan test ketiga, yaitu PCR (Polymerase Chain Reaction) yang bisa menghitung jumlah CD4 kita yang hancur.

Ketiganya memiliki sensitivitas yang tinggi. Mba ndak perlu khawatir. Mengenai pembengkakan seyogyanya Mba segera memeriksakan pada dokter keluarga Mba. Bila transfusi yang 5 tahun silam, menjadi faktor utama penyebab, tentunya proses HIV sudah banyak menimbulkan penyakit lain. Misalnya Mba mudah terkena TBC, penyakit jamur dan yang paling sering penyakit virus.

Wallahu a'lam bishshawab.

dr. Teguh Agus Santoso

 

Sumber : EraMuslim

  


Prosedur Cek HIV

Masalah :

Assalamu 'alaikum Wr Wb

Dok saya pernah melakukan cek darah untuk HIV, dengan metode 3 reagen, dan alhamdulillah hasilnya negatif.

Yang saya tanyakan, apakah metode di atas cukup akurat, mengingat masih ada metode lain untuk pengecekan darah HIV., misalnya serologistes elisa 3 kali (yang kemudian dikonfirmasi dengan westernblot). Mohon penjelasannya. Terima kasih

Wa 'alaikum salam Wr Wb

Arman khilafiyah at eramuslim. Com

Arman
khilafiyah at eramuslim.com

Jawaban

Wassalamu’alaikum Mas Arman.

Alhamdulillah atas hasil yang telah Mas Arman peroleh. Perlu diingat juga
Bagi meraka yang ingin melakukan tes HIV, bisa dilakukan dibanyak tempat sekarang. Dengan program VCT (Voluntary Counseling and Testing) baik dari WHO, USAID, FHI atau yayasan-yayasan lain.

Untuk diagnosis pasti, seperti yang pernah disampaikan, dokter melihat ke pemeriksaan fisik, di mana terlihat Syndrom Kelemahan Sistem Imun (AIDS).
Namun memang untuk yang baru pertama kali terinfeksi HIV, tes adalah langkah satu-satunya.

Memang betul, yang paling bagus adalah western blotsimple and rapid test.

Yang paling penting, sesuai dengan kesepakatan ILO jika hasil pemeriksaan positif. Perusahaan harus tetap mempekerjakan para penderita HIV positif.

Wallahu a'lam bisshowab

dr. Teguh Agus Santoso

 

Sumber : EraMuslim

 

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment