April 25, 2008

Kerisauan Pelaut terhadap AIDS

Tanya:

Pengasuh Yth. Ketika saya masih berlayar ke luar negeri, antara lain ke Cina, Jepang, Singapura dan Malaysia saya sering kencan dengan pekerja seks komersial (PSK) di negara-negara tersebut. Selama berlayar di Indonesia saya juga suka berganta-ganti pasangan bila kepepet. Terkadang saya menggunakan kondom tapi terkadang pula tidak, jujur kuakui, terkadang saya lupa menggunakan kondom bila sudah keenakan.

Padahal, masalah HIV/AIDS sudah saya ketahui sejak masih duduk kuliah. Ayah saya seorang dokter di Surabaya. Saya tahu bahwa dengan berganta-ganti pasangan dan tidak menggunakan kondom, saya akan mudah terinfeksi HIV. Tetapi saya perlu jelaskan bahwa selama ini saya lebih memilih kencan di tempat ‘lokalisasi resmi’ karena kesehatannya terjaga.

Yang ingin saya tanyakan: (1) Apakah ada jaminan bahwa semua PSK yang berada dalam lokalisasi resmi bebas dari HIV? Selama ini saya hanya mau kencan dengan PSK yang berada dalam lokalisasi resmi, bila daerah yang saya kunjungi tidak ada tempat lokalisasi resmi, saya memilih onani. (2) Apakah onani dengan PSK ada risikonya (kami tidak melakukan seks oral atau seks anal)? Selama ini saya tidak pernah terkena penyakit kelamin, kondisi tubuh saya tetap sehat.

Su, Ketapang

Jawab:

Maaf, perilakumu memang berisiko tinggi tertular HIV karena melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan orang-orang yang sering berganti-ganti pasangan, dalam hal ini pekerja seks komersial (PSK). Ada kemungkinan salah satu di antara pasanganmu yang berganti-ganti itu HIV-positif karena mereka juga kencan dengan laki-laki yang berganti-ganti. Laki-laki ini pun kencan pula dengan perempuan yang berganti-ganti. Begitu seterusnya sehingga ada kemungkinan salah satu di antara mata rantai itu HIV-positif.

Pasangan seks yang sering berganti-ganti pasangan tidak hanya PSK. Perempuan yang sering kawin-cerai pun merupakan pasangan yang berisiko karena laki-laki yang mengawini mereka juga sudah mempunyai pasangan sebelumnya. Mungkin, pasangan mereka sebelumnya pun mempunyai pasangan pula. Jadi, jangan hanya melihat PSK atau waria sebagai orang yang sering berganti-ganti pasangan karena kawin-cerai juga termasuk orang yang berganti-ganti pasangan walaupun dalam ikatan nikah. Soalnya, ada kemungkinan salah satu dari pasangan mereka HIV-positif maka ada risiko penularan HIV.

Status HIV seseorang tidak bisa permenen. Misalnya, seorang PSK di pagi hari dites HIV. Hasilnya HIV-negatif. Tapi, kalau siang hari dia melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan beberapa laki-laki yang menjadi pelanggannya maka ada risiko tertular HIV karena ada kemungkinan salah satu dari laki-laki yang mengencaninya HIV-positif. Jadi, dalam waktu hanya hitungan jam pun status HIV seseorang bisa berubah kalau dia melakukan perilaku yang berisiko tertular HIV. Maka, tidak ada manfaat ‘kartu sehat’ yang dipegang PSK biar pun di ‘lokalisasi resmi’. Soalnya, laki-laki yang datang ke sana tidak menjalani tes HIV sebelum berkencan sehingga ada risiko penularan. Kondisinya kian runyam karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang HIV-positif. Tapi, biar pun tidak ada tanda-tanda AIDS dia sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain, al. melalui hubungan seks yang tidak memakai kondom di dalam atau di luar nikah.

Tidak ada kaitan langsung antara ‘penyakit kelamin’ dengan penularan HIV karena penularan HIV tidak hanya melalui hubungan seks. Tapi, kalau seseorang tertular ‘penyakit kelamin’ maka kalau yang menularkan ‘penyakit kelamin’ itu HIV-positif maka ada kemungkinan terjadi juga penularan HIV. Lagi pula tidak ada tanda-tanda atau gejala-gejala yang khas AIDS pada diri seseorang yang tertular HIV sebelum mencapai masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV).

(1) Tidak ada jaminan bagi siapa saja apakah dia bebas HIV atau tidak karena status HIV seseorang tergantung dari perilakunya, terutama dalam hal seks. Orang yang sering melakukan hubungan seks tanda kondom, di dalam atau di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan (PSK dan waria) maka berisiko tinggi tertular HIV. Dalam kaitan ini PSK yang di ‘lokalisasi resmi’, lokalisasi liar, di jalanan, di apartemen atau di hotel mewah perilakunya tetap berisiko tinggi tertular HIV karena berkencan dengan laki-laki yang silih berganti.

(2) Onani bukan perilaku berisiko. Tapi, kalau yang melakukan onani orang lain, seperti PSK, ada risiko penularan HIV karena ada kemungkinan PSK tadi HIV-positif dan ketika onani ada darah atau cairan vagina yang masuk ke tubuh yang dionani. Maaf, kalau kau melakukan ‘kegiatan’ lagi ketika PSK tadi melakukan onani terhadap dirimu maka ada risiko kalau tangan bersentuhan dengan cairan vagina atau terjadi ciuman ketika PSK tadi sariawan.

Team Pengasuh

 

 

Sumber : Pontianak Post

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

January 17, 2008

Perempuan Cantik dan AIDS

Tanya:

Pengasuh Yth. Selama ini saya suka gonta-ganti pasangan kendati saya sudah punya istri dan setiap kali melakukan hubungan seks saya tidak pernah menggunakan kondom karena tidak enak. Selama ini saya suka kencan dengan perempuan cantik dan memiliki bentuk tubuh yang indah.

(1) Apakah saya sudah terkena HIV/AIDS karena saya suka gonta-ganti pasangan? (2) Kalau saya sudah terinfeksi HIV/AIDS: Apakah anak dan istri saya juga akan tertular HIV? (3) Bagaimana caranya untuk mengetahui apakah saya sudah tertular HIV atau tidak? (Us, Pontianak)

Jawab:

(1) Apakah Anda sudah tertular HIV karena sering ganta-ganti pasangan tidak bisa diketahui dengan pemeriksaan fisik. Untuk mengetahui apakah seseorang sudah tertular HIV harus melalui pemeriksaan darah di laboratorium. Tapi, ingat pemeriksaan darah untuk tes HIV harus dilakukan dua kali.

Pertama, tes dengan ELISA di laboratorium (sudah banyak laboratorium menerima permintaan tes HIV tapi dengan surat pengantar dari dokter dan konselor). Kedua, hasil tes dengan ELISA harus dikonfirmasi dengan tes Western blot (ini hanya ada di Pokdisus AIDS/RSCM Jakarta). Jadi, hasil tes yang benar adalah hasil konfirmasi dengan tes Western blot. Hasil tes pertama tidak diakui sebagai diagnosis hanya dipakai untuk keperluan survailans.

Yang jelas perilaku Anda yang sering melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti berisiko tinggi tertular HIV. Soalnya, kalau ada satu di antara pasangan Anda yang HIV-positif maka Anda berisiko tertular HIV.

Anda tidak bisa mengetahui apakah perempuan yang memiliki bentuk tubuh yang indah yang Anda ajak kencan HIV-negatif karena tidak ada gejala-gejalanya. Seandainya, semoga tidak, Anda tertular HIV maka Anda sendiri tidak akan mengalami keluhan kesehatan atau gejala-gejala tertentu sebelum mencapai masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV).

(2) Kalau Anda tertular HIV maka yang berisiko besar tertular adalah istri Anda. Kalau istri Anda tertular maka jika dia hamil anak yang dikandungnya akan tertular pula ketika terjadi persalinan dan menyusui dengan air susu ibu (ASI). Sedangkan anak-anak Anda yang sudah lahir tidak akan tertular selama tidak terjadi kontak darah, misalnya, darah Anda kena ke anak-anak melalui luka-luka di badan.

(3) Untuk mengetahui apakah sudah tertular HIV hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah di laboratorium. Karena perilaku Anda sudah berisiko tinggi tertular HIV maka ada baiknya kalau Anda menjalani tes HIV sukarela.

LSM Info Kespro

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

October 15, 2007

AIDS, Dapatkah Diobati?

Masalah :

SAYA adalah ibu rumah tangga yang sedang mendapat musibah. Saya mempunyai 3 anak laki-laki. Yang tertua berumur 21 tahun, tamat SMU, namun belum melanjutkan pendidikan. Anak kedua berumur 18 tahun dan yang ketiga 16 tahun, keduanya masih di SMU. Musibah yang saya hadapi adalah ketiga anak laki-laki saya tersebut pengguna narkoba.

Menurut cerita mereka, yang pertama menggunakannya adalah anak saya tertua sejak 3 tahun lalu, kemudian diikuti oleh kedua adiknya. Mereka menggunakan narkoba suntikan.

Saya bercerai dengan suami sekitar 4 tahun lalu. Saya tidak tahu apakah perceraian tersebut merupakan salah satu faktor sehingga mereka menggunakan narkoba.

Berkat bantuan adik saya yang kebetulan cukup mampu, ketiga anak saya telah menjalani rehabilitasi di sebuah wisma di luar Jakarta. Mereka semua sudah berhenti sekitar 9 bulan ini dan tampaknya punya motivasi kuat untuk terus bebas dari narkoba.

Saya tidak menganjurkan mereka untuk kembali ke sekolah, namun memasukkan mereka ke kursus bahasa karena saya mengharapkan dengan keterampilan bahasa mereka dapat mandiri dalam hidupnya nanti. Sebagai janda, tidak mungkin bagi saya untuk melanjutkan pendidikan anak-anak ke universitas.

Saat di wisma rehabilitasi ketiga anak saya dites hepatitis C dan HIV. Ketiganya positif untuk hepatitis C dan anak tertua serta yang paling kecil positif HIV.

Saya sungguh amat sedih mendengar hasil tes tersebut. Bagaimana dengan nasib mereka nanti? Apakah hepatitis C dapat disembuhkan?

Saya membaca di surat kabar bahwa sekarang AIDS sudah ada obatnya. Benarkah demikian? Sejauh mana obat tersebut efektif dan apakah obat tersebut sudah dapat diperoleh di Indonesia?

Adik saya bersedia membantu pengobatan anak saya jika biayanya tak terlalu mahal. Saya juga selalu memikirkan apakah anak-anak saya akan dapat hidup normal nantinya, menikah dan punya anak?

Mohon penjelasan dokter.

(Ibu yang malang di Jakarta)

 

Jawaban :

SAYA dapat membayangkan betapa berat beban yang ditanggung oleh keluarga Anda. Namun, perlu Anda ketahui bahwa cukup banyak keluarga yang mempunyai nasib serupa dengan ibu sekarang ini. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa dengan perjuangan keras dan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak, perjuangan melawan kecanduan narkoba dapat memberi hasil yang baik.

Memang, sering terjadi kekambuhan yang menimbulkan rasa putus asa, tetapi apabila ibu dan anak-anak berjuang keras, mudah-mudahan akan berhasil.

Penularan hepatitis C dan HIV pada pengguna narkoba suntikan disebabkan oleh kebiasaan remaja menggunakan jarum suntik secara bersama. Dengan demikian jika salah seorang pengguna menderita hepatitis C atau HIV, temannya yang menggunakan jarum suntik bersama dapat tertular. Angka penularan hepatitis C dan HIV pada pengguna narkoba suntikan di Indonesia memang amat tinggi.

Hepatitis C sekitar 20 persen dapat sembuh. Namun, berbeda dengan hepatitis A dan B, hepatitis C sering menjadi kronik. Hepatitis C yang kronik sebagian dapat berlanjut menjadi sirosis hati. Sedangkan sebagian penderita sirosis hati ini dapat terkena kanker hati.

Masa antara kejadian infeksi heptitis C dan timbulnya sirosis hati ini lama, yaitu sekitar 20 tahun. Sekarang tersedia obat untuk mengurangi risiko hepatitis C kronik menjadi sirosis hati, yaitu Interferon dan Ribavirin. Namun biaya pengobatannya masih mahal dan obat tersebut perlu digunakan sedikitnya 6 bulan.

Karena itu saya anjurkan agar putra-putra Anda berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Melalui konsultasi ini dapat ditetapkan apakah putra Anda memerlukan pengobatan dengan Interferon dan Ribavirin.

Infeksi HIV yang tidak diobati dalam 7-10 tahun dapat berkembang menjadi AIDS. Namun, sejak tahun 1996, tersedia obat yang dapat menghambat replikasi HIV. Obat tersebut merupakan kombinasi beberapa obat dalam golongan antiretroviral (ARV). Semula obat ini amat mahal yaitu sekitar 8-10 juta setiap bulan. Namun untuk negara miskin tersedia obat generik yang murah.

Sejak tahun 2001 teman-teman di RS Cipto Mangunkusumo dengan izin Departemen Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan sudah dapat menyediakan obat ini dengan mendatangkannya dari India. Selain India yang mampu membuat obat generik ARV inilah adalah Thailand dan Cuba.

Harga obat tersebut jauh lebih murah yaitu untuk kombinasi 2 obat Rp 600.000 per bulan sedangkan kombinasi 3 obat Rp 750.000/bulan. Mengingat pemakai obat ARV di Indonesia semakin banyak sehingga jumlah pesanan dapat ditingkatkan dan dengan bantuan perusahaan farmasi Indofarma, maka dalam waktu dekat harga obat tersebut akan dapat diturunkan lagi.

Badan Kesehatan Sedunia (WHO) bulan April 2002 telah membuat pedoman penggunaan obat ARV untuk daerah yang mempunyai dana terbatas. Anda dapat menghubungi dokter untuk berkonsultasi tentang penggunaan obat ARV ini. Laporan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat Medicine Sans Frontier (MSF) menunjukkan, penggunaan obat ARV di negara berkembang menunjukkan hasil yang amat menggembirakan.

Sekitar 82 persen penderita infeksi HIV setelah menggunakan obat ini selama 6 bulan HIV dalam darahnya tak dapat ditemukan (undetectable). Meski HIV sudah tak ditemukan, pengobatan harus diteruskan untuk menghindari HIV yang ada di kelenjar dan jaringan lain selain darah, berkembang biak kembali.

Dengan kemajuan pengobatan dan teknologi kedokteran, maka penderita infeksi HIV dapat mempunyai anak. Waktu terbaik untuk punya anak adalah pada waktu HIV tak ditemukan. Pada waktu itu risiko penularan kepada pasangan dan anak amat kecil.

Jika yang terinfeksi adalah suami, maka untuk meningkatkan keamanan-agar isteri tak tertular-sperma suami dicuci kemudian dilakukan inseminasi. Prosedur ini tidaklah terlalu rumit sehingga dapat dikerjakan di negeri kita.

Pada ibu hamil yang HIV positif, risiko penularan HIV kepada bayinya dapat dikurangi dengan memakan obat pencegahan ARV.

Nah, mudah-mudahan informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda dalam mendampingi anak-anak. Saya doakan mudah-mudahan perjuangan Anda sekeluarga akan membuahkan hasil yang diharapkan.

dr Samsuridjal Djauzi

Sumber : Kompas Cybers Media

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

October 5, 2007

Kumpul Kebo, Rawan AIDS?

Masalah :

Pengasuh Yth, sudah hampir empat tahun saya tinggal serumah dengan seorang laki-laki yang bekerja di kapal tanpa ikatan pernikahan. Laki-laki itu sudah bertugas di beberapa kota di Indonesia bahkan pernah bekerja di Singapura. Tetapi hampir empat tahun ini kami hidup sebagai suami istri.

Suatu hari, ketika kami kencan dia mengeluh penisnya sakit. Ketika itu katanya luka karena terkena resleting celananya. Anehnya luka itu sangat lama, bahkan satu bulan kemudian alat kelamin saya juga ikut sakit. Ketika saya periksa ke dokter, saya kaget karena dinyatakan sifilis. Saya lebih kaget lagi ketika dokter menanyakan suami saya. tubuh saya panas dingin dan gemetar, tidak tahu harus bilang apa. Ketika itu saya tidak jadi membeli obat biar pun sudah ada resep.

Saya berobat hingga dinyatakan sehat oleh dokter. Tapi, teman ‘kumpul kebo’ saya tidak mau berobat dengan alasan penisnya hanya luka biasa bukan karena sifilis. Yang ingin saya tanyakan: (1) Apa benar penis teman kumpul kebo saya luka karena resleting celana atau memang dia sifilis?

Menurut dokter saya tertular sifilis dari teman ‘kumpul kebo’ku karena sejak kami ‘kumpul kebo’ saya tidak pernah lagi kencan dengan laki-laki lain. Saya juga ingin tahu: (2) Apakah teman ‘kumpul kebo’ saya HIV? Selama ini dia selalu batuk-batuk selama saya tinggal serumah dengannya. Saya juga ingin tahu: (3) Bagaimana caranya agar tahu bahwa teman kencan saya HIV? (4) Apakah ada ada-tanda lain di sekitar penis?

Sel, Pontianak


Jawab:

Tidak ada kaitan langsung antara ikatan pernikahan yang sah, baik menurut agama, kepercayaan atau negara dengan penularan HIV/AIDS. Sebagai virus HIV dapat menular melalui hubungan seksual pada pasangan suami istri jika salah satu dari pasangan itu HIV-positif dan suami tidak memakai kondom pada saat hubungan seks. Sebaliknya, biar pun tidak menikah, ‘kumpul kebo’ atau zina kalau kedua-duanya HIV-negatif maka tidak akan pernah terjadi penularan asalkan kedua-duanya tidak melakukan hubungan seks dengan pasangan lain.

(1) Kita tidak bisa menentukan apa penyebab luka pada penis temanmu. Untuk memastikannya harus diperiksa oleh dokter. (2) Tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas pada diri seseorang yang tertular HIV sebelum mencapai masa AIDS yaitu antara 5–10 tahun setelah tertular. Pada masa AIDS seseorang yang HIV-positif sangat mudah diserang penyakit sehingga sering muncul beberapa penyakit pada dirinya, seperti diare, ruam, TB, dll. Tapi, bair pun ada gejala-gejala ini tapi untuk memastikan apakah yang bersangkutan. HIV-positif harus melalui tes HIV dan diagnosis (pemeriksaan) dokter. (3) Ya, dengan menjalani tes HIV. Tes ini hanya bisa dilakukan di laboratorium tertentu dengan pengantar dari dokter. (4) Pada orang-orang yang tertular HIV infeksi tidak terjadi di alat kelamin, penis atau vagina, tapi di darah dalam tubuh.

Karena merasa was-was ada baiknya ajak dia menjalani tes HIV sukarela. Kalau dia tidak mau akan lebih baik kalau kau sendiri yang menjalani tes. Soalnya, kalau seseorang tertular sifilis atau GO berarti dia sudah melakukan hubungan seks tanpa kondom sehingga ada risiko tertular HIV kalau teman kencannya yang menularkan sifilis atau GO juga HIV-positif.

Tapi, karena tidak ada gejala-gejala dan tanda-tanda yang khas pada diri seseorang yang tertular HIV maka banyak orang yang tidak menyadari dirinya sudah tertular HIV. Kalau tertular sifilis atau GO dalam beberapa hari sudah ada gejala-gejala, misalnya, perih atau sakit ketika kencing, sehingga orang menyadari dirinya sudah kena penyakit.

Dr.Yusuf Heriady SpB, SpBOnk

 

Sumber : Pontianak Post

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment