April 21, 2008

Vaksin Kanker Leher Rahim

Masalah :

Assalamualaikum Wr Wb
Dr Zubairi Yth,
Baru-baru ini, saya membaca adanya vaksin untuk mencegah kanker leher rahim. Saya sangat tertarik karena di keluarga besar saya ada beberapa orang yang terkena kanker, bahkan ada yang sudah meninggal. Jadi, saya sangat takut suatu saat saya juga bisa terkena kanker.

Namun, dari yang saya baca, vaksin ini hanya efektif pada usia remaja yang belum pernah berhubungan intim. Usia saya saat ini 40 tahun, menikah dengan dua anak, apakah vaksin ini masih efektif untuk saya?

Saya juga mempunyai putri usia 14 tahun, apakah dia juga perlu vaksinasi? Rasanya jika saya melakukannya seolah-olah saya meragukan anak saya dapat menjaga dirinya dari seks bebas sebelum menikah. Apalagi kalau sampai timbul kesan saya mengizinkannya untuk berhubungan seksual sebelum menikah. Apakah mungkin virus HPV dapat menular tanpa melalui kontak seksual?

Harga vaksin ini cukup mahal untuk saya, katanya sekitar Rp 1 juta sekali suntik, padahal perlu tiga kali suntikan. Jadi, saya sangat memerlukan banyak pertimbangan dari berbagai segi untuk membuat keputusan akan melakukannya atau tidak.

Valy, Jakarta

 

Jawaban :

Waalaikumussalam Wr Wb
Ibu Valy yang baik,
Saat ini memang ada satu vaksin yang sudah disetujui digunakan sebagai vaksin pencegah kanker leher rahim. Vaksin ini adalah vaksin untuk infeksi HPV (Human Papilloma Virus). Untuk diketahui, infeksi virus ini merupakan penyebab utama kanker leher rahim. Faktor lain yang dapat memengaruhi adalah merokok dan melahirkan banyak anak. HPV juga diketahui dapat menyebabkan kanker anus, bibir kemaluan, vagina, dan penis.

HPV terdiri lebih dari 100 tipe, di mana lebih dari 30 tipe dapat menular melalui kontak seksual dan sekitar 10 tipe terkait dengan kanker leher rahim. Penularan HPV genital secara nonseksual diduga dapat terjadi pada remaja yang belum pernah melakukan hubungan seks. Dugaan ini didasarkan pada penelitian yang menemukan adanya infeksi HPV genital pada remaja yang belum pernah melakukan hubungan seks.

Bayi dan anak kecil juga dapat tertular melalui jalan lahir atau kontak erat dengan orangtua/pengasuh yang terinfeksi HPV. Namun, penularan HPV genital melalui cara nonseksual diduga sangat kecil proporsinya dibandingkan penularan seksual.

Hampir semua wanita pernah mendapat infeksi HPV, tetapi sebagian besar tidak menunjukkan gejala dan sembuh sendiri tanpa pengobatan. Infeksi HPV yang menetap selama bertahun-tahun dapat menyebabkan perubahan pada sel-sel leher rahim dan kemudian dapat berubah menjadi sel kanker. Jadi, hanya sedikit dari wanita yang terinfeksi HPV akan menderita kanker nantinya.

Vaksin yang tersedia sekarang mampu mencegah terjadinya infeksi menetap dari HPV tipe 6, 11, 16, dan 18. HPV tipe 16 dan 18 menjadi penyebab dari sebagian besar (70 persen) kanker leher rahim, sementara tipe 6 dan 11 menjadi penyebab dari hampir semua (90 persen) kasus `kutil' pada genitalia (kondiloma akuminata, jengger ayam), suatu penyakit menular seksual.

Uji klinik yang sudah terbukti efektif sampai saat ini memang baru dilakukan pada wanita yang usianya kira-kira belum aktif secara seksual. Vaksin ini direkomendasikan untuk wanita usia 9-26 tahun. Vaksin ini tidak dapat menghilangkan sel-sel yang sudah berubah akibat infeksi HPV menetap. Juga tidak melindungi terhadap infeksi HPV selain tipe 6, 11, 16, dan 18. Jadi, sekitar sekitar 30 persen kanker leher rahim dan 10 persen kutil genitalia tidak dapat diproteksi oleh vaksin ini.

Untuk wanita seperti ibu, pemberian vaksin ini aman-aman saja jika dilakukan, tetapi jika saat divaksinasi sudah terinfeksi tidak dapat memberikan efek proteksi. Uji klinik efektivitas vaksinasi untuk wanita di atas 26 tahun sampai saat ini masih dilakukan.

Keputusan untuk vaksinasi bagi wanita yang telah aktif secara seksual cukup sulit karena tidak seperti infeksi hepatitis B misalnya, pemeriksaan infeksi HPV yang sudah disetujui digunakan untuk umum sampai saat ini hanya dapat menunjukkan apakah seorang wanita sedang terinfeksi HPV dan tipenya apa, tidak dapat mengetahui apakah ada infeksi sebelumnya.

Kontroversi memang tidak terhindarkan setelah pengenalan vaksin ini ke masyarakat, termasuk masalah etik dan moral seperti kekhawatiran ibu. Di AS, memang rekomendasi usia ideal dilakukannya vaksinasi (11-12 tahun) didasarkan pada data rata-rata usia pertama mereka melakukan hubungan seksual.

Bagaimana dengan Indonesia? Mungkin usia ideal untuk melakukan vaksinasi tidak bisa disamakan dengan Amerika. Tetapi, saya pikir Ibu jangan terjebak dengan kekhwatiran bahwa vaksin ini menyebabkan putri Ibu merasa aman berhubungan seks. Banyak akibat lain dari seks bebas. Misalnya infeksi HIV dan penyakit menular seksual lain, juga 30 persen kanker leher rahim yang tidak dapat dicegah oleh vaksin ini. Jadi, fokuskanlah vaksinasi ini untuk pencegahan kanker.

Vaksin HPV saat ini memang masih mahal harganya. Diharapkan di masa mendatang, biaya vaksinasi di Indonesia dapat berkurang sehingga lebih banyak orang yang dapat mengakses alternatif pencegahan ini mengingat kanker leher rahim merupakan salah satu kanker tersering yang diderita wanita Indonesia.

dr Zubairi Djoerban

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://konsultasikesehatan.epajak.org/reproduksi/vaksin-kanker-leher-rahim-417/trackback

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Made with WordPress and the Semiologic theme and CMS • Sky Gold skin by Denis de Bernardy