April 19, 2008
Ablasi Retina
Masalah :
Assalamualaikum Wr Wb
Dokter Zubairi Yth,
Ayah saya 61 tahun, tiba-tiba kehilangan sebagian penglihatannya sebulan yang lalu. Untung segera ke dokter dekat rumah dan langsung dirujuk ke dokter mata. Menurut dokter mata, ayah saya harus segera dioperasi karena retinanya lepas. Sekarang, beliau Alhamdulillah sudah bisa melihat kembali setelah operasi. Kata dokter, bila datang terlambat beberapa hari saja, penglihatan ayah tidak bisa ditolong, alias buta sebelah.
Pertanyaan saya, apakah penyebab retina bisa lepas. Saya dan adik serta kakak saya takut, jangan-jangan ini penyakit menurun, dan perlu antisipasi untuk anggota keluarga yang lain. Selama ini, kondisi kesehatan ayah baik sekali, kecuali kadar trigliserida yang sedikit tinggi dan kacamatanya agak tebal. Seingat saya, ayah hanya pernah satu kali opname di rumah sakit sewaktu operasi usus buntu. Selain operasi, adakah cara lain untuk mengatasi masalah mata yang serius ini? Saya baru mendengar pertama kali, ya setelah ayah dioperasi matanya. Terima kasih.
Donny, Jakarta Selatan.
Jawaban :
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Donny yang baik,
Lepasnya retina atau ablasi/ablatio retina, atau retinal detachment adalah suatu kelainan pada mata akibat 'terkelupasnya' retina dari lapisan dasarnya. Ablasia dapat terjadi lokal, hanya sebagian kecil retina yang lepas, namun tanpa pengobatan yang cepat, seluruh retina dapat lepas, yang berakibat si penderita kehilangan penglihatan (menjadi buta untuk mata yang terkena). Jadi, yang lepas dapat retina dari mata sebelah kanan atau kiri atau keduanya. Ablasi retina merupakan kondisi kegawatan atau emergensi yang memerlukan pengobatan segera.
Retina adalah suatu lapisan, jaringan tipis yang sensitif terhadap cahaya, terletak di dinding belakang bola mata. Sistem optik mata memfokuskan cahaya ke retina, amat serupa dengan cahaya yang difokuskan ke film pada kamera. Retina menerjemahkan gambar yang terfokus tersebut ke impuls saraf dan mengirimkan ke otak melalui serabut saraf mata.
Kadang-kadang, trauma ke mata atau kepala — sewaktu pertandingan tinju misalnya — dapat menyebabkan bagian belakang vitreus (bagian dari isi bola mata) lepas dan menyebabkan sobekan kecil pada retina. Sobekan kecil ini memudahkan cairan vitreous menyelinap masuk ke bawah retina, memudahkan ablasi retina, persis seperti udara yang kadang kita temukan dibawah wallpaper. Kondisi ini disebut ablasi retina regmatogen.
Jenis kedua adalah ablasi retina sekunder atau disebut juga eksudatif atau serous, yaitu bila ada cairan yang masuk dibawah retina tetapi tanpa sobekan retina. Kelainan ini dapat terjadi akibat peradangan, kecelakaan atau kelainan pembuluh darah mata. Adapun jenis yang ketiga disebut ablasi retina traksional, yaitu jaringan ikat yang terbentuk akibat peradangan, yang kemudian menarik (traksi) lapisan sensor retina, lepas dari jaringan epitel pigmen. Terjadilah ablasi retina. Kondisi terakhir ini dapat ditemukan pada pasien diabetes dan penyakit anemia jenis khusus, yaitu anemia sel bulan sabit (sickle cell anemia). Sebetulnya, ablasi retina tidak terlalu jarang ditemukan. Risiko untuk mata normal sekitar lima di antara 100 ribu per tahun, sedangkan usia lanjut 20 per 100 ribu per tahun dan risiko selama hidup (lifetime risk) untuk mata normal adalah satu di antara 300.
Apakah penyebab ablasia retina? Penyebab tersering (67 persen) adalah miopia berat (pakai kacamata minus yang tebal), lebih dari 5 diopter. Apakah ayah Mas Donny sudah memakai kacamata tebal sejak kecil? Pasien ablasia pada miopia, biasanya berusia lebih muda dari ablasia sebab lain. Penyebab lain adalah sesudah operasi katarak. Risiko ablasi retina sesudah operasi katarak sekitar lima sampai 16 per 1.000 operasi katarak. Bila operasi katarak dilakukan pada pasien miopia atau pada usia muda, maka risiko ablasi lebih tinggi lagi.
Apakah gejala ablasi retina? Mengenal gejala awal ablasia penting, karena hasil pengobatan tergantung dari berapa lama, berapa jam atau berapa hari operasi dilaksanakan sesudah ablasia terjadi. Ayah Anda beruntung karena segera operasi sehari sesudah gejala muncul. Gejala ablasia retina antara lain seperti ada kilatan cahaya, biasanya di bagian pinggir, bukan di pusat penglihatan, kadang mata terasa agak berat, kehilangan sebagian penglihatan — ada daerah yang hitam atau garis lurus seperti kita melihat pinggiran cermin.
Bagaimana mengobatinya? Ada beberapa cara pengobatan ablasi. Dokter mata akan memilihkan tindakan yang terbaik untuk pasiennya, antara lain:
1. Menempelkan kembali retina yang lepas, dengan menyuntikkan gas (SF6 atau C3F8) ke dalam bola mata. Diharapkan gas tersebut menekan retina yang lepas, melengket kembali. Tindakan ini disusul dengan melaser retina yang terlanjur sobek. Setelah operasi, pasien harus menunduk dan telungkup sewaktu tidur atau tiduran, agar gas tersebut menekan retina. Prosedur ini biasanya dikombinasikan dengan tehnik yang lain, misalnya fotokoagulasi atau kriopeksi.
2. Vitrektomi, yaitu kombinasi antara tindakan mengeluarkan massa vitreus yang bentuknya seperti gel dan mengisinya dengan menyuntikkan gas (SF6 atau C3F8). Teknik ini biasa dikerjakan di negara dengan sistem kesehatan yang modern, dan sudah banyak dikerjakan di beberapa rumah sakit atau pusat-pusat kesehatan mata di Indonesia.
3. Kombinasi antara kriopeksi dan fotokoagulasi, yaitu teknik untuk membuat adesi atau luka parut di sekitar retina yang lepas. Teknik bertujuan untuk mencegah cairan masuk ke dalam lubang sobekan.
4. Prosedur yang disebut scleral buckle.
Apakah ablasi retina penyakit menurun? Tidak, ablasi bukan penyakit menurun, namun Mas Donny, kakak, adik atau siapapun bisa mengalami ablasi di kemudian hari, bila seperti juga ayahanda sekarang ini memakai kacamata tebal. Ablasi retina di keluarga merupakan salah satu faktor risiko, selain usia lanjut, diabetes, pernah operasi katarak, trauma pada mata, dan lain-lain. Ada baiknya Mas Donny konsultasi ke dokter mata.
Apakah ablasi bisa dicegah? Ya, ablasi bisa dicegah. Untuk yang berkacamata minus tebal (miopia berat), selain checkup, perlu menghindari aktivitas yang berisiko trauma kepala atau trauma mata, misalnya menyelam, terjun payung, angkat besi, bungee jumping, karate, tinju dan menghindari naik roller coaster atau jet coaster. Untuk yang sakit diabetes (kencing manis), komplikasi ablasi retina biasanya muncul setelah penyakit berjalan beberapa tahun, khususnya bila tidak diobati dengan baik.
dr Zubairi Djoerban
Sumber : Republika Online
Tags: Ablasi Retina, Dr Zubairi Djoerban, Republika Online






Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.