May 5, 2008

Takut Tertular Penyakit Lewat Tato

Masalah :

Assalamualaikum Wr Wb
Dokter Zubairi Yth,
Anak saya laki-laki, merengek minta punggungnya ditato seperti teman-teman mainnya. Terus terang saya khawatir, takut jarumnya nggak steril, kemudian tertular hepatitis. Dok, benarkah hepatitis, AIDS atau penyakit-penyakit lain bisa ditularkan melalui jarum tato? Di satu pihak saya senang, anak saya memberitahukan keinginannya untuk tato. Namun di pihak lain, kalau saya tolak, saya takut ia akan mentato punggungnya tanpa setahu saya. Anak saya badannya besar, tinggi 170 cm, walaupun umurnya baru 19 tahun. Ia kuliah semester tiga.

Yayuk, Jakarta

 

Jawaban :

Assalamualaikum Wr Wb
Bu Yayuk Yth,
Memang patut disyukuri anak minta izin dulu sebelum melakukan sesuatu yang ia anggap penting dan menjadikannya lebih keren, lebih macho, lebih cool, jika meminjam istilah remaja sekarang. Membuat tato (tattoo) di tubuh memang menjadi tren sebagian remaja sekarang, lelaki dan perempuan di Indonesia, maupun remaja di banyak negara lain, termasuk remaja di negara Arab. Sebetulnya, sejak berabad lalu, suku Ainu di Jepang dan suku Maori di New Zealand biasa membuat tato, bahkan di wajah. Demikian pula beberapa suku di Filipina, Kalimantan, Mentawai, Afrika, Amerika Selatan, dan Cina biasa membuat tato di badan. Tato dapat merupakan simbol berbagai hal, mulai dari simbol religi, status, keberanian, kecantikan, proteksi, namun juga bisa merupakan simbol perbudakan. Tato juga amat populer di penjara maupun di kalangan kriminal.

Apakah tato dapat menularkan penyakit? Ya, memang benar tato dapat menularkan berbagai penyakit, termasuk kuman yang ganas dan juga dapat menularkan penyakit virus, termasuk hepatitis C dan HIV/AIDS. Tato dapat menularkan penyakit karena seringkali jarum dan alat-alat lain yang dipakai untuk membuat tato tidak selalu steril, sering dipakai ulang, tanpa disterilkan lebih dulu. Proses membuat tato adalah dengan memasukkan pigmen, zat warna ke dalam kulit.

Pada bulan Juni 2006, badan kesehatan resmi Amerika, CDC melaporkan 44 kasus penularan kuman MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus) super bakteri ganas, pintar dan resisten terhadap beberapa antibiotik yang ditularkan melalui tato. Dilampirkan foto pasien yang kakinya luka parah dari jari sampai paha akibat infeksi MRSA melalui tato. Kondisi kesehatan pasien ini merupakan kedaruratan yang membahayakan nyawa dan dapat menularkan ke orang lain, khususnya ke pasien yang sedang dirawat di rumah sakit yang sama. Saya masih ingat ketika menengok pasien penyakit darah yang terinfeksi MRSA di sebuah rumah sakit di Leiden, Belanda. Saat itu, sebelum melihat atau memeriksa pasien berikutnya, saya harus keluar rumah sakit, berjalan di udara bebas, sebelum beberapa jam kemudian, baru boleh masuk rumah sakit, melihat pasien berikutnya. Tujuannya, agar saya tidak menjadi mediasi untuk penularan MRSA.

Tato dapat menularkan bakteri ganas tersebut, karena jarum yang dipakai untuk membuat tato tidak steril. Setelah dipakai untuk klien pertama, kemudian langsung dipakai untuk membuat tato klien kedua tanpa disterilkan lebih dulu, sehingga jarum yang mengandung darah, berisi kuman dan virus dari klien pertama, dipindahkan ke klien kedua. Bakteri, virus dari klien pertama dan kedua, dipindahkan, ditularkan ke klien ketiga, dan seterusnya.

Untuk membuat tato, baik dengan cara tradisional ataupun dengan mesin tato, saat zat warna dimasukkan ke kulit dengan menusukkan satu jarum ataupun banyak jarum, terjadi kerusakan dari barier kulit, sehingga memungkinkan timbulnya infeksi dan alergi. Pada tahun 2000, badan POM Amerika dan Palang Merah Amerika melarang orang yang ditato untuk menyumbangkan darah, paling tidak untuk 12 bulan. Selain MRSA, penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui tato adalah virus herpes simplex, virus hepatitis C, HIV, juga infeksi jamur dan tetanus.

Efek samping tato yang lain adalah alergi. alergi lebih sering terjadi terhadap zat warna merah dan hijau. Selain itu, ada juga yang alergi terhadap lateks, termasuk sarung tangan yang dipakai oleh orang (tukang, artis) yang mengerjakan proses tato. Walaupun kecil, namun ada risiko shock anafilaktik sewaktu tato dibuat. Sekarang ini, juga tersedia gambar tempel yang bisa membuat lukisan di kulit untuk sementara, 1-2 minggu, mirip tato, tetapi tanpa memakai jarum.

Jadi, Bu Yayuk, jelaskan kepada anak Ibu tentang risiko tertular penyakit yang bermacam-macam tersebut, dan minta anak Ibu membaca tulisan ini. Saya harap anak Ibu bisa mengerti dan memahami mengapa sebaiknya tidak membuat tato di tubuhnya, selain memang tidak dibenarkan oleh agama Islam yang Ibu sekeluarga anut.

Dr.Zubairy Dzoerban

 

 

Sumber : Republika Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://konsultasikesehatan.epajak.org/kulit/takut-tertular-penyakit-lewat-tato-444/trackback

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.