April 23, 2008
Pengaruh Lingkungan Terhadap Kekambuhan Dermatitis Atopik
Tanya:
Ibu dokter saya ingin berkonsultasi tentang keluhan kulit saya yang kambuh-kambuhan, saya juga penderita asma, oleh dokter yang memeriksa dikatakan saya menderita dermatitis atopik.
Saya sangat terganggu dengan sakit saya ini dan mencoba mencari tahu dari berbagai media informasi dikatakan bahwa penyakit ini akibat diturunkan dan sering kambuh. Sebenarnya penyakit ini disebabkan oleh apa bu dokter? Apakah kekambuhan dapat dipacu perubahan kondisi lingkungan maupun stres, maupun daya tahan yang menurun? Apakah makanan juga berpengaruh terhadap kekambuhannya? Mohom penjelasan. Terimakasih
Wuri, Pontianak.
Jawab:
Saudara Wuri, dermatitis atopik (DA) merupakan peradangan kulit yang kronis dan kambuhan yang ditandai dengan rasa gatal yang hebat, kulit kering, serta tanda lain sesuai dengan kriteria DA, kondisi ini berhubungan dengan kondisi atopi lain baik pada penderita maupun keluarganya.
Atopi merupakan istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada individu yang mempunyai kepekaan dalam keluarganya misalnya: asma, rhinitis alergi, DA, dan konjungtivitis alergi. Sekitar 70% penderita ditemukan riwayat stigmata atopi (asma, rhinitis, konjungtivitis alergi, dan dermatitis atopik). Dengan demikian DA ini merupakan penyakit yang dapat diturunkan baik berdiri sendiri sebagai penyakit tunggal maupun muncul bersama dengan penyakit yang merupakan stigmata atopi seperti tersebut di atas.
Sampai saat ini etiologi dan patogenesi DA belum diketahui secara pasti, namun para peneliti sepakat bahwa kekambuhan DA merupakan hasil interaksi antara faktor genetik yang dimiliki dengan faktor lingkungan yang mempengaruhinya serta faktor imunologi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa DA merupakan penyakit yang diturunkan baik penelitian secara pola genetika maupun penelitian kromosom.
Pada pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa penderita DA 80% menunjukkan peningkatan imnuglobulin E (IgE) dalam serum (>200IU/ml). Peningkatan kadar IgE berkaitan dengan luas dan beratnya penyakit.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terdapat ketidakseimbangan jumlah antara sub tipe limfosit T CD4 yaitu Th1 dan Th2, pada penderita DA terdapat Th2 yang menonjol yang pada proses imunulogi akan berkibat peningkatan produksi IgE.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada penderita DA terdapat peningkatan jumlah sel langerhans bersamaan dengan peningkatan aktivitasnya sebagai sel penyaji antigen. Melalui proses imnulogi kondisi ini akan menyebabkan peningkatan IgE maupun proliferasi limfosit T.
Pada penderita DA terjadi defek imunologi dibandingkan dengan orang normal bukan penderita atopi. Defek imunologis ini pada penderita DA akan menyebabkan penderita lebih rentan terhadap infeksi bakteri virus maupun jamur.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa alergi terhadap makanan tertentu dapat mencetuskan kekambuhan pada DA. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan food challanges atau secara hati hati mengamati efek dari eliminasi makanan dalam diet disertai pencegahan terhadap faktor pencetus lainnya.
Alergen kontak maupun aeroalergen dapat berperan sebagai pencetus DA antara lain tungau debu rumah, bulu binatang, mold, serbuk sari, kayu, rumput. Pada penderita yang alergi terhadap aeroalergen, menghindari paparan secara berkelanjutan dapat memberi banyak perbaikan, yang harus dilakukan adalah menghindari paparan dengan bantal atau kasur yang berdebu, dan sebaiknya dengan busa, mencuci sprei dengan air panas, menghindari pemakaian karpet dan menurunkan kelembaban dengan air conditioning.
Kulit penderita DA biasanya kering sehingga barier kulit terganggu. Pada penderita DA terjadi penurunan kadarair pada lapisan kulit, peningkatan TEWL, peningkatan pH kulit, penurunan kadar ceramide dan free amino acid. Akibat kondisi ini apabila kulit kontak dengan bahan iritan akan mudah terabsorbsi, dan penetrasinyapun lebih mudah yang selanjutnya akan menjadi pencetus kekambuhan.
Bahan iritan tersebut antara lain sabun dan deterjen, asap rokok, bahan kimia, desinfektan, logam berat. Pada penderita DA diduga terjadi kelainan intrisiksistem para simpatik yang mengakibatkan gangguan fungsi termoregulasi, kondisi kulit biasanya membaik pada musim panas dan memburuk pada musim dingin yang kering, tergantung keseimbangan antarasuhu panas dan hilangnya air melalui kulit.
Iklim dengan suhu panas atau orlah raga yang menyebabkan keringat berlebihan akan memperburuk lesi DA, sebaliknya iklim dingin yang kering juga memperburuk penyakit karena suhu dingin dan kering akan meningkatkan kekeringan kulit, suhu panas dan keringat akan meningkatkan iritasi.
Beberapa metode praktis yang dapat dilakukan oleh penderita DA untuk mencegah kekambuhan DA antara lain:
1 Pakailah pakaian yang lembut dan menyerap keringat. Hindari pakaian yang kasar dan ketat
2.Pakailah sabun yang pH balance dan mengandung pelembab
3.Bila kulit kering pakailah emollient
4.Potong kuku untuk menghindari luka akibat garukan
5.Jangan menggaruk dengan bahan yang tajam seperti sisir, menyilet dst
6.Hindari kontak langsung dengan debu, bulu binatang piaraan, serta allergen hirup seperti serbuk bunga mupun tanaman.
7.Hindari stress emosional
8.Hindari bahan-bahan yang bersifat iritan
9.Pakailah air mandi yang mendekati suhu tubuh
Metode di atas diharapkan dapat membantu mengurangi kekambuhan DA. Bila dengan perawatan non medis belum ada perbaikan maka harus diobati secara medis. Bila kurang jelas atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah kulit dan kelamin dapat menghubungi:hp 0818464018 atau pontianak post atau poli Kulit dan Kelamin RS Soedarso atau apotek Mitra jl Jend Urip.
Team Pengasuh
Sumber : Pontianak Post Online
Tags: Dermatitis Atopik, Pontianak Post Online, Team Pengasuh






Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.