May 12, 2008

Sifilis dan AIDS

Tanya:

Pengasuh Yth. Sejak masih duduk di SMA saya sudah terkena sifilis. Saya tidak tahu kenapa penyakit kelamin itu sangat cepat menyerangku. Hingga saya punya dua anak penyakit itu tetap saja sering datang dan pergi dari diriku dan suamiku. Suami saya memang sering ganta-ganti pasangan sejak kami pacaran. Entah, apakah setelah nikah pun mungkin masih sering melakukan hal yang sama. Yang pasti sejak 10 tahun sifilis selalu datang dan, maaf, vagina saya selalu gatal. Suami saya selalu menggunakan kondom bila melakukan hubungan seks akhir-akhir ini. Saya tidak tahu kenapa dia melakukannya. Saya juga tidak berani bertanya kenapa dia sering menggunakan kondom.

Yang ingin saya tanyakan: (1) Apakah bila seseorang sifilis sudah positif HIV? Memang sejak saya terkena sifilis saya tidak pernah berobat hingga tuntas karena malu. Delapan tahun yang lalu saya pernah periksa ke salah satu dokter di Makassar. Setelah diperiksa dokter mengatakan penyakit saya dan suami saya merupakan gejala HIV. Hal itu disampaikan dokter tadi di depan tiga suster. Saat itu, semua mata tertuju padaku. Apalagi ketika pulang dokter itu memintaku mencari dokter yang menangani HIV. Malu dan takut yang kurasakan pada saat itu sulit kuurai dengan kata-kata. Yang lebih fatal salah seorang, yang mengaku pemerhati HIV, yang diperkenalkan temanku di Makassar, juga mengatakan hal yang sama. Katanya, hidup saya tidak akan lama dan tubuh saya akan seperti monster setelah saya memasuki masa AIDS.

Sejak saat itu saya dan suami saya tidak pernah lagi memeriksakan diri ke dokter dan tidak meminta konseling pada pemerhati HIV yang lain. Saya memilih menikmati sifilis saya yang masih sering kumat hingga membuat tubuhku sangat kurus. Saya juga tidak mau berobat dan mencari konseling di Makassar karena takut privasi saya dan suami saya tidak dijaga karena kami cukup dikenal di Makassar. Oleh karena itu ketika membaca “Konsultasi HIV/AIDS” di Harian “Pontianak Post” saya memilih ikut konsultasi untuk mencari jalan terbaik yang mesti saya lakukan dengan suami.

Ny. X, Pontianak

Jawab:

Terima kasih atas kesediaanmu membaca “Pontianak Post” dan memanfaatkan rubrik “Konsultasi HIV/AIDS”. Terus terang salah satu faktor yang mendorong kami menggalang kerja sama dengan “Pontianak Post” adalah banyak keluhan terakait dengan tidak ada jaminan kerahasiaan jika konsultasi dengan berbagai kalangan. Maaf, melihat penyakit yang kau derita tidaklah mudah bagimu untuk menghadapinya. Akan lebih baik kalau berobat ke dokter. Kalau merasa malu atau takut privasimu tidak dirahasiakan maka Anda bisa memakai nama samaran dan mengubah dandanan sehingga tidak dikenal orang. Bagaimanapun kau tegar penyakit apa pun tetap akan menjadi masalah bagi kesehatan yang pada akhirnya akan membebani hidup.

Cara yang ditempuh dokter (apakah benar dokter?) yang menyebutkan sifilis tanda-tanda HIV di depan orang lain jelas merupakan perbuatan yang melawan hukum dan pelanggaran berat terhadap HAM. Sangat disesalkan dokter yang terikat sumpah jabatan ternyata mengabaikan etika dan hukum serta HAM. Begitu pula dengan orang yang mengaku aktivis AIDS sangat tidak etis. Dia sudah menempatkan diri di atas Tuhan karena mengetahui ajal orang lain dan menghakimi serta menghina.

Dokter dan aktivis LSM ini layak dilaporkan ke polisi karena perbuatannya merupakan tindak pidana yaitu membocorkan rahasia (KUH Pidana pasal 322 dengan ancaman hukuman penjara sembilan bulan), penghinaan dan perbuatan yang tidak menyenangkan (KUH Pidana pasal 310 dengan ancaman hukuman penjara sembilan bulan).

(1) Cara penularan sifilis dengan HIV bisa melalui hubungan seks yang tidak memakai kondom di dalam atau di luar nikah dengan seseorang yang mengidap sifilis atau HIV-positif. Yang menjadi persoalan adalah kalau laki-laki yang menularkan sifilis kepadamu juga, semoga tidak, mengidap HIV maka ada kemungkinan, sekali lagi ada kemungkinan, sekaligus juga menularkan HIV. Tapi, ini hanya kemungkinan karena HIV tidak mudah menular. Tapi, pada diri seseroang yang mengidap sifilis maka ada infeksi di alat kelamin sehingga memudahkan HIV masuk ke aliran darah.

Jadi, akan jauh lebih baik kalau Anda dan suami memeriksakan diri ke dokter agar penyakit dapat disembuhkan sehingga tidak mengganggu. Selain mengobati sifilis perlu pula bagi Anda dan suamimu untuk menjalani tes HIV sukarela. Dengan mengetahui status HIV maka penanganan dapat dilakukan secara medis, misalnya, pemberikan obat antiretroviral yaitu obat yang dapat memperlambat pertumbuhan HIV di dalam tubuh sehingga seseorang yang HIV-positif tetap bisa bekerja seperti biasa. Selain itu penyebaran HIV dapat diputus karena akan dianjurkan untuk menerapkan seks aman (selalu pakai kondom jika melakukan hubungan seks).

Team Pengasuh

 

Sumber : Pontianak Post Online

Tags: , ,
Permalink • Print • Comment

Trackback uri

http://konsultasikesehatan.epajak.org/aids/sifilis-dan-aids-451/trackback

Related Entries

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.