May 28, 2008
Menjaga Anak dari HIV/AIDS
Tanya:
Pengasuh Yth. Saya ayah dari lima anak yang saat ini sedang menanjak remaja. Satu sudah menikah, dua kuliah, anak ke-4 SMA dan yang bungsu di kelas 3 SMP. Sejak ada “Konsultasi HIV/AIDS” di Harian “Pontianak Post” saya selalu mengikutinya. Jawaban yang disajikan telah memberikan pemahaman pada saya tentang apa dan bagaimana HIV/AIDS yang sebenarnya.
Yang ingin saya tanyakan: Jika saya ingin membentengi anak-anak dengan agama dan menanamkan moralitas yang benar: (1) Apakah mereka akan bebas dari HIV? Setiap kali konsultasi layanan dimuat saya selalu mewajibkan anak-anak untuk membacanya, maksudnya supaya mereka mawas diri dan menjauhi sikap yang bisa menularkan HIV. Saya juga: (2) Minta petunjuk yang mesti saya lakukan agar keluarga bebas dari HIV.
Dar, Pontianak
Jawab:
Syukurlah ternyata bapak mengajak anak-anak memahami HIV/AIDS secara benar. Selama ini banyak orang tua yang berbicara dengan lidah yang terbalut moral sehingga yang keluar hanyalah kepalsuan sehingga banyak di antara kita yang munafik. Orang-orang tua, seperti pejabat, pakar, tokoh masyarakat dan tokoh agama hanya menyalahkan remaja. Menghujat remaja.
Memberi cap buruk kepada remaja. Tapi, tidak ada satu pun orang tua yang memberikan cara untuk mengatasi dorongan seks seperti yang mereka lakukan waktu remaja dahulu. Kalau jujur, ya, tolong, dong, beritahu anak-anak tentang cara-cara yang kita tempuh dahulu ketika remaja untuk mengatasi dorongan seks.
Saya khawatir banyak di antara kita yang terkecoh melihat film di bioskop atau televisi tentang ‘kehidupan’ di Barat dan Amerika. Perilaku yang ditampilkan di film bukan gambaran nyata budaya mereka. Itu hanya buatan manusia untuk hiburan. Pengalaman seorang teman saya di Amerika Serikat, misalnya, selama dua minggu di sana sama sekali dia tidak berhasil ‘memikat cewek’.
Padahal, ketika berangkat di benaknya sudah ada gambaran seperti di film: ketemu cewek di bar, bawa ke hotel dan kencan. Ternyata, melihat cewek dengan melotot atau membuntuti cewek dikategorikan sebagai kejahatan. Jangankan mencolek, melontarkan kata-kata jorok atau berbau ajakan terhadap perempuan pun dapat ditangkap polisi jika perempuan itu mengadu ke polisi.
(1) Tentu saja ketaatan terhadap agama sangat baik. Tapi, perlu diingat penularan HIV tidak terkait langsung dengan agama. Misalnya, penularan melalui transfusi darah atau transplantasi (pencangkokan) organ-organ tubuh. Begitu pula dengan penularan melalui jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo atau alat-alat kesehatan sama sekali tidak terkait dengan agama. Begitu juga penularan melalui hubungan seks.
Dalam ikatan pernikahan yang sah pun bisa terjadi penularan kalau salah satu dari pasangan itu HIV-positif. Hal ini bisa saja terjadi karena tidak ada tanda-tada, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas AIDS pada diri seseorang yang sudah tertular HIV sebelum masa AIDS (antara 5 – 10 tahun setelah tertular HIV). Namun, biar pun tidak ada tanda, gejala atau ciri khas AIDS sudah bisa terjadi penularan melalui hubungan seks, transfusi darah atau jarum suntik, jarum tindik, jarum akupunktur, jarum tattoo atau alat-alat kesehatan yang dipakai berganti-ganti.
(2) Setiap orang bisa melindungi diri secara aktif agar tidak terular HIV. Bandingkan dengan flu atau TBC kita tidak bisa melindungi diri karena penyebarannya melalui udara. Tentu kita tidak bisa berhenti menghirup udara.
Untuk melindungi diri agar tidak tertular HIV yang diperlukan adalah pemahaman yang objektif, akurat dan komprehensif tentang HIV/AIDS yaitu informasi dasar HIV/AIDS: cara-cara penularan dan pencegahnya. Hanya dengan mengetahui fakta tentang HIV/AIDS secara objektif dan akurat kita dapat melindungi diri secara aktif agar tidak tertular HIV.
Team Pengasuh
Sumber : Pontianak Post
Tags: Anak HIV/AIDS, Pontianak Post Online, Team Pengasuh






Leave a Comment
You must be logged in to post a comment.